Lingkar Jangkar
Jangkar Terbakar
Jangkar Lingkar
Lingkar Mengakar
Lingkar Jangkar
Jangkar Terakar
Tappp!!!!
—-///—–///—–
(as long as…Na was here)

Lingkar Jangkar
Jangkar Terbakar
Jangkar Lingkar
Lingkar Mengakar
Lingkar Jangkar
Jangkar Terakar
Tappp!!!!
—-///—–///—–
(as long as…Na was here)
“Karena sibuk saya memang ngga sempat banyak tahu tentang internet, apalagi harus banyak yang dipencet-pencet, wah saya memang tak…” sang Bupati menghentikan kalimatnya sambil tertawa kecil, tersirat ia secara jujur mengaku gagap teknologi. Salah satu Bupati di kabupaten wilayah Barat Provinsi Jambi ini pun terkesan tak begitu tertarik dengan dunia internet. Ah…kasian banget…padahal konon ia tengah fokus ingin jadi Gubernur Jambi…
Kejadiannya sore Ju’mat (27/06) kemarin, ketika aku bersama empat teman yang lain bertemu di kediamannya untuk diskusi tentang hal penting . Usai membahas pokok utama, pembicaraan pun berujung pada topik ringan yaitu tentang dunia internet..
“Tapi saya lihat di luar negeri, di perusahaan besar orang masih masih baca buku atau baca koran, padahal itu kan negara lebih maju dari kita ” kalimat menutupi malu ini ia lontarkan pasca salah satu temanku menjelaskan ‘ini itu’ yang intinya internet adalah jendela informasi, yang kian dibutuhkan dan kian dicari masyarakat….”Itu artinya kan internet……” kalimat lanjutannya meluncur untuk membela diri….kuperhatikan wajah empat teman ku masem mendengarnya, pasti juga kasian dengan si Bapak…Hari gini?!…
Aku jadi mikir…harus menunggu berapa tahun lagi Jambi akan memiliki bupati/pejabat/pemimpin yang tidak gaptek?..capppe ddee.….
Pasca menikah, pertanyaan yang hampir setiap hari aku dengar adalah…”Sudah Isi Buuuk??!”, agak kurang nyaman sich rasanya…tapi ya aku ambil sisi pisitif nya ajalah, pertanda mereka masih sangat peduli dengan aku dan mendoakan yang baik untuk aku..
Nah uniknya lagi….usai mendengar pertanyaan seperti ini, biasanya akan meluncur pula tips-tips dari mereka.. Padahal aku belum begitu tertarik dengan tips-tips aneh mereka…(heheheh)
Jeng!…kalo sudah gituan ganjal ma xyzxyzyxyz —kalo sudah gituan jangan cepat dixyzxyzxyz.—-nah kalo udah melakukan itu harusxyzxyzxyz—kalo bisa xyzxyzxyz di itu in—-dan banyak trik dan tips lainnya…
Lucu deh…tapi aku senang…pasca menikah ada banyak perubahan sikap orang lain juga yang aku terima..Tetangga yang biasanya cuek, sekarang jadi lumayan perhatian. Ibuku yang biasanya nelpon cuma mau ngingatin sholat subuh, sekarang ditambah dengan harapan, ‘cepat beri cucu ya nak’. Biasanya aku dipandang rada kucel, kini selalu di puji kian manis..hehe…. Mantan cowok ku yang secara kini suamiku..terasa kian buaik saja, pokoknya hidup ku benar-benar jadi BERUBAH dan MENYENANGKAN!
Menjadi dosen, guru atau sejenis itu lah..tak pernah terbayang oleh ku sejak kecil. Mungkin karena yang terpikir sejak dulu hanya lah bercita jadi dokter, reporter TV, penulis terkenal, insinyur dan banyak lainnya (Maklum, cita-cita ku sejak kecil emang suka berubah-rubah..he).
Ibu ku yang seorang guru, menjadi salah satu sebab mengapa aku jadi tak tertarik menjadi seorang pengajar. Entah karena sejak kecil aku terlalu lelah ikut ibu mengajar, diganggu sama muridnya yang nakal, dipanggil “Guru Kecil cerewet’ dan kesan lainnya atau karena aku memang tak punya bakat jadi ‘Guru’…
….Tuh liat tangisku waktu kecil…usai diganggu murid ibu…
Tapi itu berubah seketika, saat salah satu dosen Bahasa Indonesia – Kosentrasi Jurnalistik – FKIP Universitas Jambi, meminta aku mengajar, menghadapi puluhan mahasiswa, memberi materi tentang jurnalistik dan wartawan di kelas dan…dan..dan……Wah.. (Awal kisah ini sebenarnya sudah terjadi pertengahan Tahun 2007 lalu, tapi kangen aja pengen cerita ulang…)
Begitu dapat tawaran, aku memang langsung bilang “Oke Sip Siap”, mengingat, menimbang dan memikirkan akan dapat tantangan yang bakal ‘muantap’ ..awal dapat tawaran hanya seru yang terasa…Tawaran yang datang mendadak kusambut dengan manis, penuh percaya diri…”Besok jaml 11 ya Mbak…mahasiswa akan nunggu Anda lho…jangan sampai ngga datang karena mereka pasti kecewa” Eddi P Harahap, Pak Dosen mengulangi kalimat tawarannya. “SIP PAK!” sekali lagi ku yakinkan Pak Eddi.
Namun semangat ku tiba-tiba berubah jadi ‘cemas’ saat pagi datang…Aku mulai bingung mau bicara apa, mau mengajar materi apa, baju apa yang pantas, sepatu kets masih boleh kah di pakai…Gajah Makan Kawat! Benar-benar Gawat!!!…Akhirnya aku memutuskan….datang dengan gaya dan modal “super alakadar”. Kuputuskan untuk tetap jadi diriku…nga perlu pake blazer, sepatu tumit, atau apalah…”be ur self!!!” kata hatiku …
“Tok…tok..tok…Pagiiiiii…….” Kusapa kelas nan tampak ramai mahasiswanya itu. Ufh…lega rasanya ketika Pak Eddi ikut menunggu di kelas..Setelah diperkenalkan ba bi bu nya…Pak Eddi langsung meng -over kekuasaannya ke Aku. Aduh!!
“Ehm ehm..gini…sebaiknya kita akan buat kuliah hari ini menjadi beda!, kalian semua bebas bertanya tentang dunia wartawan, saya akan jawab semampu dan sebatas pengalaman yang saya punya, gimana? Setuju ngga?” kumulai kalimat dengan penuh percaya diri…menyembunyikan sehabis mungkin rasa dag dig dug….
“SETUJUUUUUU!!!” kata dari wajah-wajah semangat itu seketika langsung membuat aku lega….sangat lega…hari menjadi sangat ringan, seringan kapas…Jadi kangen dengan ibu ku…mungkin perasaan yang ia rasa setiap hari saat mengajar di SD terpencil sebelah kampung ku.., seindah apa yang aku rasakan saat itu….ooohhhh….I Love U mam!!!
Waktu pun berjalan hingga dua jam, aku dihujani pertanyaan-pertanyaa aneh, unik,bikin geli dan banyak jenis pertanyaan lainnya. Hampir semua mahasiswa bertanya hari itu, malah ada yang berebutan ngotot bertanya dua kali…Ah..senang rasanya, mereka ternyata penasaran bahkan terlihat sangat tertarik dengan dunia jurnalistik dan kewartawanan.
Beberapa pertanyaan yang masih kuingat hingga hari ini diantaranya:
1. Wartawan itu pekerjaan apaan sih mba?
2. Jadi wartawan punya masa depan tidak? Gajinya berapa?
3. Cara meliput yang benar itu bagaimana sich mba?
4. Pernah tidak diajak makan sama bos atau pejabat hidung belang, trus mba tergoda tidak?
5. Pernah tidak terima uang sogokan dari narasumber?
6. Bisa kemana aja sich kalo jadi wartawan? Ke luar negeri sering tidak?
7. Dan puluhan pertanyaan lainnya.
Sesuai janji awal, semua pertanyaan kujawab semampu dan sebatas pengalaman yang aku miliki.
Kalimat yang tak kalah manis yang ku dengar dipertemuan penutup adalah…”Mbak, jika ada waktu kita bagi cerita dan diskusi lagi ya…jangan bosan jadi dosen di sini…mengajar lah sesering mungkin…”….Aiiiihhhh…senangnya…..
Sejak saat itu, ketika Pak Eddi nelpon dan minta aku jadi “Dosen Dadakan” lagi …aku selalu jawab “SIAP PAK!” dengan penuh semangat dan gairah yang meledak-ledak….ahh..makin tua memang semakin banyak pula lah cerita hidup…..tapi menjadi wartawan tetap jadi pilihan hidupku hingga hari ini…tidak dulu lah menjadi dosen.. (***)
“beb..ini hari ke 43 kita”… kalimat itu seketika mengagetkan aku barusan, selain karena aku menyukai angka tiga dan empat, juga karena aku merasa semakin mantap dan beruntung…memiliki suami yang selalu mengingatkan aku tentang berartinya pernikahan kami setiap hari…”Beruntungnya aku bisa menikahimu..dan beruntunglah dirimu bisa memiliki aku” halaahhh!!!! suami ku terkadang memang suka norak dan aneh jika tengah ngegombal..tapi ya tak apalah…toh memang iya…;-)…
Buku ketujuh Harry Potter akan diawali dengan Voldemort dan para pelahap mautnya di rumah Lucius Malfoy, yang merencanakan untuk membunuh Harry Potter sebelum ia dapat bersembunyi kembali. Buku karya JK Rowling ini akan diluncurkan 13 Januari 2008 nanti di Jambi/Indonesia serentak, hanya saja rasa penasaran – hidup kah Harry Potter atau mati kah ia – di Edisi terakhir ini..belum bisa jua terjawab hari ini…
Belakangan aku mengalami banyak perubahan yang tak lazim . Mungkin ini perasaan dan sikap teraneh yang pernah aku rasakan…Apa ada hubungannya dengan pernikahan yang tak lama lagi? atau karena dua hari lagi aku akan dilamar secara resmi? Ah..aku tak mengerti juga…Beberapa sikap tak biasa malah yang harus kuhadapi:
1. Jadi Buas: Kadang tak beralasan, saat asyik berdiskusi tentang cerita yang ringan saja, aku bisa berubah ‘buas’. Misalnya ketika calon suami mengusulkan agar poto pre wedding kami dibuat lebih bermakna, misalnya di tepi pantai atau di mana saja yang penting berarti. Aku langsung emosi, memutus pembicaraan dengan kata tak sedap dan langsung mematikan ponsel. “Itu kan cuma usulan, kalau ngga juga ngga papa kok,” kuterima sms darinya…duuuuh…. ini baru lah satu kasus .. belum lagi kasus-kasus ringan lainnya yang jadi berat di mataku…untungnya dia penyabar dan yang sangat baik….untuuuuung…
2. Jadi Miss Ingin Tau: Karena kami tidak satu kota, hubungan lebih banyak dilakukan via telpon. Sudah menahun pacaran, sebelumnya aku tak terlalu rewel. Tapi belakangan tidak, setiap saat aku ingin tau dengan siapa dia duduk, di kantornya ada siapa saja, dia pake baju apa, kenapa suaranya pelan, kenapa telpon putus-putus, kenapa ada bunyi angin…duuh..menyiksa lah…tapi ya gimana lagi….hik!
3. Jadi Miss Sensi: Aku sangat mudah tersinggung. Pernah suatu kali, dia tengah disibukkan sebuah sebuah projec kerja, nelpon hanya menanyakan kabarku, tak menyinggung tentang pernikahan sedikitpun. Aku langsung ngambek, tiga hari ku hukum dia dengan gaya yang tak lazim, menjawab pertanyaannya dengan nada ‘tinggi’, tak bersahabat, seharian kumatikan ponsel, telpon rumah dan semuanya. Aku merasa harusnya ia tetap bercerita dengan tema pernikahan. “Tapi pernikahan kita kan udah pasti, sehari tak dibahas bukan berarti tak jadi khaan”…ufhh…aku salah lagi deh..
4. Jadi Kolektor Dadakan: Belakangan semua barang pemberiannya setiap hari ku utak-atik, kususun rapi, ku’timang-timang’, pokoknya bak kolektor sejati lah. Surat cintanya ku baca beratus kali, cincin, gelang, anting, dan semua barang pemberiannya setiap hari kuperiksa, kususun berubah-ubah posisi. Potonya kubolak-balik, potonya ketika 6 tahun silam, 5,4,3,2,1, bahkan potonya 10 tahun silam! aku seperti orang senewen…
5. Jadi Ratu Stres: Apapun yang menyangkut prosesi pernikahan, dibahas saja aku bisa jadi stres apalagi harus dihadapi. Misalnya, dua hari lagi akan ada prosesi lamaran di kampung halaman ku, aku memilih lebih baik tak hadir, tetap berada di kota tempat ku merantau sekarang. Aku stress tak karuan jika ingat itu…padahal semua kami telah sangat akrab, saling kenal dan tak ada hambatan apapun! gila! “Ya ngga papa, adat kita juga ngga menuntut si perempuan ada kok ketika lamaran” untung ibu ku sangat pengertian…
6. Mendadak Perfecter: Biasanya aku tergolong orang cuek, tak terlalu memikirkan pakaian, dandanan, warna rambut dan lainnya. Belakangan malah sebaliknya. Hampir setiap minggu aku sibuk berkonsultasi dengan manajemen salon. Gajah makan kawat! bener-bener gawat!
7. Dan banyak keanehan lainnya!…ck ck ck…..capek sendiri aku dibuatnya ……
– Tiba-tiba Malam –
” Hei malam! aku mulai tak menyukaimu! Selalu saja gelap. Apa kau tak tau, betapa sibuknya manusia berpikir untuk melawan gelapmu”
Malam terheran, apa gerangan siang, tiba-tiba jadi berpetir, kilaunya menyambar pohon, tanah dan menyalip langit.
“Apa masih salah aku, meski telah berusaha bersembunyi dari terang mu, agar kau tak malu, agar bintang yang meredup itu pun bisa kusembunyikan”..
Malam beranjak meninggalkan siang..
Berharap siang tak melihat..kalau malam sebenarnya telah basah bersama awan..
Siang tak sadar rupanya, malam telah jadi semakin kelam dan beku…
Rieke Diah Pitaloka merupakan sosok selebriti yang cukup fenomenal..Dia juga tergolong artis yang total..Dia tak pernah takut jelek ketika tampil memerankan tokoh apapun. Ia juga lucu, lucu yang tentunya lebih ‘smart’ dan bukan lawakan murahan dan bodoh seperti kebanyakan yang ada di TV belakangan…. menyimak acaranyanya bisa membuat tersenyum dan tertawa. Jadi penting, karena kata Mak ku..banyak tertawa itu bisa mengurangi keriput di wajah….Ga salah dunk, kalo aku termasuk orang yang suka melihat penampilan Sarjana Sastra Belanda UI ini…
……………………………………………………………………………capek…lagi ga mood nulis….kalo nulis berita sih…teetttteppp….hehehe……………………………………………….tapi kalo di blog?????? uuufffhhhh………………………………………………………………………………..kenapa ya………………..?
Recent Comments