Dona Naik Heli… :-)

•July 9, 2010 • 15 Comments

Naik Pesawat? Wah ini pasti sudah sangat biasa…Bagaimana dengan naik helikopter? Bagiku ini cukup tidak biasa. Selama hidup, aku hanya sekali naik benda berbaling ini. Apalagi kalau bukan karena urusan liputan berita.

Helikopter yang aku tumpangi sekitar dua tahun lalu ini, merupakan milik Polda Jambi. Ketika itu, hanya ada tiga wartawan yang diangkut untuk meninjau langsung lokasi longsor di Muaro Emat Perbatasan Kabupaten Merangin dan Kabupaten Kerinci, yaitu Aku dari Jambi Ekspres dan Rolan Hasibuan dari Jambi Independent dan satu dari TVRI Jambi. Tentu saja bukan hanya kami saja yang dibawa terbang, tapi juga ikut dalam heli yang sama, Gubernur Jambi Drs H Zulkifli Nurdin dan Kepala Dinas (Kadis) PU Provinsi Jambi Ir Nino Guritno.

Aku termasuk orang yang buta dengan tipe ataupun jenis heli. Seingatku, heli yang kami tumpangi ukurannya cukup luas, entah tipe apa aku juga ngga ngerti dan lupa nanya. Heli ini, diisi oleh tujuh orang,   Pilot yang duduk paling depan, lalu di deretan kedua duduk Pak Gubernur dan pak Kadis PU, mereka menghadap ke depan, dibelakangnya ada aku, Bang Rolan dan Bang TVRI, duduk sambil membelakangi punggung pak Gubernur, dan satu orang Co Pilot yang duduk tepat menghadap kami…Alhamdulilah..ketika itu, co pilotnya sungguh manis..hahah…

Perjalanan pertama dengan Heli ini cukup mulus…entah karena aku berangkat dengan Orang Nomor satu di Jambi, atau karena aku emang lagi beruntung. Tidak ada ketakutan dan rasa was-was sama sekali. Padahal aku punya teman kuliah (Melva), yang adiknya tewas gara-gara jatuh naik heli di Sumatera Barat.

Kami berangkat dari Bandara Sultan Thaha sekitar Pukul 09:00 Pagi.  Di dalam Heli, aku disambut dengan beragam jenis makanan, keranjang buah siap santap menanti…duuuh..amboy lah pokoknya…

Membelakangi/Dibelakangi Gubernur Jambi saat Terbang Perdana dengan Heli Milik Polda Jambi Hee..

Membelakangi/Dibelakangi Gubernur Jambi saat Terbang Perdana dengan Heli Milik Polda Jambi Hee..

Meski saat itu banyak makanan dan terbang bareng Gubernur, jangan mengira naik heli bisa senyaman naik pesawat terbang biasa. Ternyata, ada banyak alasan mengapa naik heli jadi sangat tidak nyaman yang kurasa. Pertama, bising sangat. Ketika itu, semua harus menggunakan penutup kuping yang cukup kuat dan rapat. Al hasil, aku dengan yang lain hanya sibuk senyam senyum tanpa mengeluarkan satu kalimatpun, percuma juga mau ngomong pasti tak akan terdengar, mesin heli cocok masuk kategori polusi udara berat. Aku juga sempat sesekali mengintip Pak Gubernur, sekitar 50 menit perjalanan kami, beliau hanya menatap ke luar kaca jendela dan tak mengeluarkan satu patah kata pun dengan teman sebangkunya, Pak Kadis PU..Kasian juga..speechless gitu hahaha.

Alasan kedua mengapa naik heli tidak nyaman adalah. Jendelanya bisa buka tutup layaknya mobil. Sebagai wartawan perempuan yang menjaga kencantikan hahaha, jujur, aku sangat terganggu ketika jendela terbuka dan ada angin dahsyat menerpa muka. Untung, co pilot yang duduk tepat di depanku cukup paham dan menutupnya kembali. Seingatku, jendela bisa bebas dibuka ketika heli telah terbang pada ketinggian yang stabil, bukan saat take off ataupun saat landing. Tapi tetap saja, ini adalah hal yang cukup mengerikan bagi ku….beda banget dengan naik Garuda, Mandala, Lion, Riau Airline dan lain-lainnya!.

Alasan ketiga mengapa naik heli jadi tidak nyaman, karena aku ngerasa seperti naik andes alias angkutan desa. Kursinya tidak semua menghadap ke depan, tapi malah ada yang menghadap ke belakang seperti yang aku duduki ketika itu. Cukup menganggu, karena aku udah infill duluan dan berasa mabok udara, pusing dan pengen muntah. Meski tak sempat muntah karena disumpel mulu sama buah-buahan segar, tapi tetap saja, ketika itu aku terganggu. Kesimpulannya, naik heli menurutku memang lebih cocok untuk perjalanan berdurasi pendek. Jangan pernah mimpi deh Naik Haji pake Helikopter…Bisa Gagal Ibadah…:-)

Tapi aku cukup beruntung, pengalaman yang baru sekali itu, telah membawa aku merasakan, betapa jarak Tempuh Kota Jambi – Kabupaten Merangin itu sangat Singkat. Dari atas Heli pula, aku bisa melihat secara jelas hutan-hutan mana yang masih utuh dan mana yang sudah botak digunduli. Wajar memang, mengingat heli tidaklah terbang dengan ketinggian seperti pesawat terbang biasa. Dari sini pula, aku menyadari, betapa perkebunan sawit di Provinsi Jambi ini sangat luas, aku melihat secara nyata, hamparan kebun sawit jauh lebih meraja dibanding sawah ataupun kebun karet. Dari atas heli juga, aku sempat berpikir, lama-lama Jambi akan Nol produksi padinya akibat masyarakat lebih tertarik menanam sawit. Lantas.. anak cucu kita nanti kalo mau makan nasi pasti kemahalan beli beras karena padi didatangkan dari luar.  Dan ada banyak pikiran antik lain yang terbesit ketika itu.

Usai meninjau lokasi longsor di Desa Sungai Melancar Muara Emat. Kami makan siang di rumah makan yang hanya berjarak 1 km dari lokasi longsor, tentu saja ditraktir sama Bupati Merangin dan Bupati Kerinci yang ketika itu udah menanti di lokasi, istirahat…lalu betolak ke Kota Jambi. Kembali menggunakan tutup telinga dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Jujur, ketika itu rambutku sangat kusut dibuatnya, ketika naik dan turun, angin baling-baling heli menerpa cukup hebat. Tapi tak apalah…yang penting aku dapat berita bagus, foto bagus dari lokasi longsor dan juga pengalaman bagus. (***)

Mimpi Itu…Jadi Nyata….(part-1)

•June 29, 2010 • 9 Comments

Tahun ini..Genap 5 Tahun aku jadi jurnalis/wartawan/repoter/what ever lah namanya. Sungguh! Ini adalah pekerjaan yang aku cita-citakan sejak kecil. Menggeluti profesi ini, bukan sedikit tantangan yang harus aku dihadapi…Hidup sangat tidak datar dibuatnya, semua berwarna, bergelombang, sangat bervariasi dan menggetarkan jiwa…

Flash Back Sebentar…He..Oktober 2004. Bulan inilah aku resmi mendapat gelar Sarjana Teknik Sipil dari sebuah Universitas Swasta yang sangat ternama di Sumatera, Universitas Bung Hatta. Luar biasa, gelar ini aku raih setelah kuliah enam tahun lamanya…lumayan lama untuk ukuran warga kampung sepertiku. Jika tetangga di desaku bisa menyelesikan S1-nya dalam kurun 3,5 hingga 5 tahun, aku malah melebihi mereka, Enam Tahun!

Aku menganggap itu wajar, kenapa? Pertama, aku adalah anak teknik, sepanjang sejarah, sebagian besar anak teknik memang kuliahnya lama..”Anak Teknik kuliahnya kan susah, banyak hitungan dan rumit angka-angkanya” alasan klise ini sedikit membela..he.

Kedua, selama kuliah yang enam tahun itu, empat tahun diantaranya aku habiskan bekerja sebagai penyiar di sebuah radio kota tempat aku kuliah, yaitu Kota Padang, Aku tak pernah lupa nama radio itu. BOOS FM. Radio yang awalnya pure jazz dengan segmen dewasa, lalu jadi radio anak muda, dan terakhir aku dapat kabar,,,bahwa radio itu telah jadi radio gado-gado alias semua musik masuk, konon ini terjadi karena udah beda pemegang saham. Apapun yang terjadi di sana sekarang,…aku tetap menganggap BOOS FM adalah jendela hidup….

Kembali ke Oktober 2004. Setelah wisuda, bulan ini pula aku memutuskan untuk berhenti jadi penyiar – pekerjaan yang membuat aku bahagia. Angkat kaki dari Kota Padang, dan mencoba berjuang menggunakan ijazah S1 Teknik Sipil-ku. Meski tak terlalu yakin, mengingat aku tak pernah punya good feeling dengan Ilmu Teknik Sipil, tapi aku mencoba untuk tak dulu memberontak, mencoba menyenangkan hati orang tua, dan akan berusaha jadi PNS saja….

Dan… jadilah aku, si pengangguran yang tengah sibuk ikut tes CPNS. Aku memilih Kabupaten Muko-Muko Provinsi Bengkulu sebagai wilayah tujuan bekerja. Tak terlalu jauh dari domisili orangtua ku yaitu Kabupaten Kerinci. Desember 2004…resmi pula lah aku sebagai peserta tes yang gagal jadi CPNS. Antara bahagia dan sedih, bahagia karena aku bisa punya kesempatan bekerja di media. Sedih, karena aku telah gagal menjadi anak yang membanggakan.

Januari 2005. Aku memutuskan untuk jalan-jalan ke Kota Jambi. Bersama seorang sahabat satu alumni, Lina, aku berkolaborasi sebagai sesama pencari kerja melakukan perjalanan, berencana memasukkan surat lamaran sebanyak-banyaknya. Berbeda dengan Lina yang bakatnya udah kental Teknik Sipil . Ketika itu aku malah sibuk memasukkan lamaran ke media massa, dengan posisi lamaran sebagai Reporter alias wartawan. (Sejak kapan aku mulai gemar menulis? Profil ku dalam blog ini mungkin cukup untuk menjelaskannya…)

Aku masih ingat persis, Jambi Ekspres, Jambi Independen, Posmetro Jambi dan TVRI Jambi, adalah media yang aku kirimkan lamaran ketika itu. Sementara, Lina, terlihat lebih semangat memasukkan lamaran ke kontraktor dan konsultan. Kami berdua juga memasukkan lamaran ke bank- bank swasta yang ada di Kota Jambi.

Asyik juga.. selama tiga hari, aku dan Lina serasa menjadi seleb saja..seleb angkot karena tak lelah naik turun angkot dari satu tempat ke tempat lain, dan seleb nyasar..karena nyasar melulu akibat tak terlalu hapal Kota Jambi…satu lagi, kita berdua juga jadi seleb keringat..karena selama tiga hari hampir selalu kebanjiran keringat akibat kepanasan kecapean mencari alamat….hahaha

Akhirnya…satu per satu surat lamaran mendapat respon. Masih Januari 2005, perdana aku mendapat panggilan dari Bank Bukopin, bank yang akhirnya mengagalkan kesempatanku menjadi seorang pegawai Bank. Aku memang kecewa, tapi dari hati yang paling dalam, aku lebih kecewa karena belum satupun dari empat media yang aku antar langsung surat nya, lamaran menaggilku untuk tes. Hingga suatu hari… beberpa minggu kemudian…aku mendapat telpon dari Jambi Ekspres..untuk mengikuti ujian tertulis…WOW!. ”Cita-cita ku selangkah lagi!” begitu aku berpikir saat itu.

Benar saja….lolos tes tertulis…beberapa hari kemudian aku langsung dapat telpon untuk tes wawancara. Dinyatakanlah, aku lulus…sudah boleh mulai terjun ke lapangan, meliput berita dan tercatat sebagai peserta training! Bersama sekitar 7 orang lainnya…Horeeeeeeee!…awal Februari 2005….aku resmi mulai bekerja.

Tapi..hayalan memang tak selalu sama dengan kenyataan…. tau apa yang terjadi di hari pertama aku bekerja? Astagafirullah…aku sangat kaget…ternyata menjadi seorang wartawan itu tidak gampang, susah, berat dan sangat tidak enak!..berbeda dengan hayalanku…bahwa jadi wartawan itu sangat mudah..tinggal buru informasi..tulis berita..lalu jadi lah sebuah koran…Ternyata..salah!…Pada tulisan berikutnya…akan kukisahkan dengan jelas tentang hari pertama aku bekerja….hari pertama aku sadar..ternyata menjadi wartawan itu sangatlah tidak mudah……(***)

Pangendum, Anak Rimba Sahabatku….

•December 15, 2008 • 81 Comments

Pemuda Telanjang, ini yang terekam saat pertemuan pertama ku dengan Pangendum pada tahun 2006 lalu. Telanjang karena saat itu ia hanya menggunakan selembar kain untuk menutup bagian “kelaki-lakiannya”. Tidak seperti pakaian pria umumnya, Pangendum hanya menggunakan lilitan kain panjang yang menutupi aurat. Terakhir baru aku ketahui pakaian khas Suku Anak Dalam atau Orang Rimba asal Bukit Duabelas Jambi itu bernama cawot.

-)

Aku bersama orang Orang Rimba asal Makekal Hulu Bukit Dua Belas Jambi, Pangendum ada di belakangku, samping kanan bapak berjenggot...yang paling cakep..🙂...semua mereka ber-cawot...

Menjadi wartawan telah membuat aku banyak mengenal orang dan banyak punya teman. Pangendum salah satunya. Ia bukan pemuda biasa, Pangendum adalah anak muda asli Orang Rimba yang lahir dan tumbuh di dalam hutan Jambi. Bagi kaum Orang Rimba yang muda seperti Pangendum..disebut dengan Anak Rimba….

Perkenalan kami berawal ketika Pangendum bersama puluhan Orang Rimba lainnya datang ke Dinas Kehutanan Provinsi Jambi untuk berjuang mempertahankan Hutan Bukit Duabelas, agar tetap bisa dihuni kaum Orang Rimba dan tidak dikuasai dengan semena-mena oleh pemerintah maupun orang luar. Ketika itu aku meliput kehadiran mereka.

Sejak itu pula, aku dan Pangendum syah menjadi sahabat. Kami sering berkomunikasi, bertemu langsung maupun melalui telepon seluler. Biasanya kami membicarakan banyak hal, mulai dari pendidikan, HAM, hutan dan hal-hal ringan tentang kehidupannya yang terkadang mampu membuat aku takjub saat mendengarnya.

Pangendum di ladang padi dalam hutan Bukit Dua Belas Jambi...Thanks atas fotonya...foto istimewa dari Aa' Dani..Pendamping Orang Rimba - Sokola..

Pangendum di ladang padi dalam hutan Bukit Dua Belas Jambi...Thanks atas fotonya...foto istimewa dari Aa' Dani..Pendamping Orang Rimba - Sokola..

Meski tak mengetahui tanggal dan tahun berapa ia lahir, karena ia sendiri sering bingung saat ditanya tentang hal ini, tapi bisa aku perkirakan usia Pangendum kini sekitar 23-24 tahun.

Saat kecil, Pangendum sama dengan anak-anak Rimba lainnnya. Ia banyak menghabiskan waktu untuk berburu hewan, mencari buah-buahan atau menggali umbi-umbian untuk dimakan atau sekedar dijadikan mainan. Dari Pangendum pula aku tahu, ternyata saat yang tepat berburu Babi adalah ketika hujan turun. ”Karena saat hujan, babi-babi akan bersembunyi di goa-goa, saat itu kita akan mudah memburunya,” terang Pangendum. Senang sekali mendengar kisah-kisah dan ceritanya.

Kami lumayan sering bertemu, meski tinggal jauh di area Hutan Bukit Dua Belas Makekal Hulu Bangko Kabupaten Merangin Jambi – sekitar 8 jam ke Kota Jambi dari pinggiran hutan. Pangendum sering datang ke Kota Jambi untuk berbagai keperluan dan menginap di basecamp LSM Lingkungan Walhi. Jika sama-sama punya kesempatan, kami akan bertemu, makan dan bercerita tentang karya-karya yang telah ia kerjakan.

Aku punya cerita lucu saat pertama kali hanging out dengan Pangendum di Kota Jambi..Saat keliling kota, aku membonceng Pangendum dengan sepeda motor. Situasi ini membuat kami jadi pemandangan banyak orang. Pangendum yang sehat bugar itu pun tak luput dari lirikan aneh pengguna jalan lain yang kebetulan berpasan dengan kami. Berhenti di lampu merah, semua mata melihat aneh kami.

Sejak awal keberangkatan, sebenarnya Pangendum telah menawarkan diri untuk memboncengku. Mungkin emang dasar akunya yang jahat…aku tak langsung yakin ia bisa mengendarai motor dengan baik…aku cemas jangan-jangan dia tak paham mengartikan rambu-rambu lalu lintas…Bagaimanapun, di hutan mana ada jalan raya, mana ada lampu merah, mana ada jembatan beton, mana ada sepeda motor…Ah…aku benar-benar merasa jahat jika ingat itu…

Manisnya, Pangendum sangat mengerti rasa ketidakpercayaanku kepadanya. Terlihat ia tak mau merusak acara hanging out kami. Ia asyoi amboi aja diboonceng…buuummm…buuum….berkeliling lah kami….

Capek keliling…Pangendum mulai memberi aku kejutan dengan pengakuannya yang bikin aku tak enak hati…”Kamu harus tahu, di Bangko saya sering ngebut bawa motor, paling mahir lari kalau dikejar polisi karena saya jarang pakai helem, di basecamp LSM sana kan banyak motor, sejak aktif bersama mereka, sejak itu pula aku bisa membawa motor,” Pangendum bercerita…duuh…karena udah terlanjur sok hebat…akhirnya aku harus tetap membonceng Pangendum dan tahan gengsi..

Al hasil…malam harinya aku kecapean…bobot berat Pangendum yang lumayan gilee telah membuat aku ekstra maksimal mengeluarkan energi, menyeimbangkan sepeda motor, membawa Pangendum berkeliling kota…uuufffhhhh….

Pangendum dan Aku...foto bareng Kepala TVRI Jambi Pak Haryono saat masih menjabat...Pak Haryono sempat penasaran ingin kenal dengan Pangendum..hasilnya..kami berdua ke TVRI dan ngobrol panjang tentang filem karya Pangendum dkk...

Aku dan Pengendum...foto bareng Kepala TVRI Jambi Pak Haryono saat masih menjabat...Pak Haryono sempat penasaran ingin kenal dengan Pangendum..hasilnya..kami berdua ke TVRI dan ngobrol panjang tentang filem karya Pangendum dkk...

Bersahabat dengan pangendum, aku merasa aman dan nyaman. Orang Rimba teramat menghargai kaum perempuan. Di lingkungan mereka di hutan, perempuan yang tak memiliki hubungan perkawinan dengan pria, dilarang keras bertemu dengan jarak dekat. Bahkan menurut Pangendum, di Rimba tidak pernah terjadi hal-hal di luar norma.

Padahal kaum perempuan Rimba sangat sexi, tidak menggunakan penutup dada. Pria dan wanita di Rimba saling menghargai, mereka jauh lebih beradat dan berperilaku sopan dibanding orang-orang luar yang berpendidikan tinggi. Demikian pula Pangendum, dia sangat sopan.

Berkomunikasi dengan pengendum aku menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Orang Rimba memiliki bahasa khas yang susah dipahami. Pangendum sendiri sangat mahir berbahasa Indonesia namun tak bisa bahasa Jambi. ”Karena di Rimba saat belajar kami diajarkan guru berbahasa Indonesia dan bukan bahasa Jambi,” alasan Pangendum.

Kadang aku keceplosan juga menggunakan Bahasa Jambi saat berbincang dengan Pangendum. ”Aduh tolong, jangan pakai bahasa Jambi, kamu bicaranya cepat-cepat pula, saya tidak mengerti,” Pangendum langsung protes.. Kadang kalo lagi usil, aku sengaja bicara Bahasa Jambi dengan ritme cepat, Pengendum akan mengernyitkan kening tanda bingung dan tak paham…haha. Untung akhir-akhir ini Pangendum sudah mulai banyak paham kosa kata Bahasa ‘gaul’ Jambi.

Bicara soal talenta, Pangendum adalah gudang talenta. Meski tidak pernah mengenyam pendidikan formal sekolah karena hidup di lebatnya hutan, ia tetap bisa membaca, menulis, memahami hukum bahkan sangat kritis. Semua ia pelajari dari LSM yang konsen memberikan pendidikan kepada Orang Rimba. Tahun 2001 lalu, Pangendum sempat menjadi murid Butet Manurung – aktivis dan juga penulis yang fokus pada Suku Anak Dalam Jambi dan di daerah lain nusantara.

Bekal ilmu itu pula, Pangendum kini akhirnya bisa menjadi guru bagi anak-anak Rimba lainnya, mengajar menulis, membaca, berhitung dan menularkan ilmu lain yang ia punya. Bahkan Pangendum telah bisa beradaptasi dengan lingkungan luar nan modern. Ia kini bisa menggunakan ponsel, laptop, bahkan bersama sahabat sesama Anak Rimba dari Kelompok Makekal Bersatu, Pangendum telah membuat filem berjudul Menunjuko atau Rimba Rumah Kami.

Hamparan hutan Bukit Dua Belas Jambi..eksistensinya semakin terancam...foto ini menggambarkan kondisi hutan yang terbakar dan ditebang orang-orang tak bertanggung jawab...foto aku ambil saat melewati hutan Bukit Dua Belas dari atas Heli Polda saat menuju ke lokasi longsor Kerinci-Merangin tahun lalu.

Hamparan hutan Bukit Dua Belas Jambi..eksistensinya semakin terancam...foto ini menggambarkan kondisi hutan gundul bekas dibakar dan ditebang orang-orang tak bertanggung jawab...foto aku ambil saat melewati hutan Bukit Dua Belas dari atas heli milik Polda saat menuju ke lokasi longsor Kerinci-Merangin tahun lalu.

Pangendum pun kini aktif sebagai aktivis pendidikan dan lingkungan yang fokus pada kelestarian hutan Bukit Dua Belas, menentang keras penebangan kayu liar dan fokus memperjuangkan area tempat tinggal Orang Rimba tinggal. Pangendum..sahabat ku itu telah jadi orang hebat bagi kaumnya. Meski aktif bersama orang luar…ia tetap tak melupakan ‘rimba’nya…tetap pulang ke hutan…ke rimba…tempat ia dibesarkan…(***)

Perjalanan ke Lokalisasi Pucuk Jambi (Part-2)

•December 4, 2008 • 40 Comments

Posting Part-1, aku telah memberi gambaran tentang suasana di area Pucuk. Sejak perjalanan pertama pada tahun 2005 itu, secara berturut-turut setiap tahun aku menginjakkan kaki ke tempat yang penuh PSK ini. Tetap dengan tujuan yang sama yaitu meliput berita.

Posting kali ini, aku tak ingin banyak cerita tentang bagaimana para PSK yang ada di sini. Mengingat, menimbang, semua kita pasti juga sangat paham profesi mereka, pekerja seks yang melayani kepuasan pelanggan untuk mendapatkan uang. PSK di pucuk juga sama dengan PSK yang ada di lokalisasi lain. Ada yang paham dan sadar akan potensi terjangkit penyakit dan ada pula yang sebaliknya. Ada yang semangat saat digelar program vaksinisasi/ pemeriksaan kesehatan, ada pula yang ogah-ogahan.

Berhubung tak mau cerita panjang tentang PSK. Aku ingin langsung berkisah tentang sosok-sosok non PSK yang hidup, tinggal dan juga ikut bekerja di lingkungan lokalisasi Pucuk. Perjalanan beberapa kali ke sana telah membuat aku banyak bertemu dengan sosok istimewa ini. Tak kalah membuat kagum..mereka mampu bertahan hidup di tengah para perempuan yang setiap hari menjajakan kelaminnya untuk orang yang tak jelas asal usulnya.

Yup..lets move on….Berbicara tentang orang istimewa ….pertama yang aku temui adalah anak-anak para PSK. Mengapa aku katakan mereka istimewa? Pertama, karena kebanyakan mereka adalah korban para PSK. Kedua, karena pertemuan kami terjadi di sebuah Mushola. Di tempat ibadah bernama Raudhotul Jannah itu, aku menemukan hampir 50 wajah-wajah tanpa dosa tengah semangat belajar agama.

anak-anak itu...adalah anak PSK, germo, sebagian juga adalah anak mantan PSK Pucuk yang kini ditinggal pergi ibunya...

anak-anak itu...adalah anak PSK, germo, sebagian juga adalah anak mantan PSK Pucuk yang kini ditinggal pergi ibunya...

Awal menginjakkan kaki di pintu Mushola, aku langsung merasakan kecamuk yang luar biasa…merinding, terpana dan kagum. Dari informasi yang berhasil aku himpun, sebagian besar dari anak-anak ini adalah anak ”haram” yang tak diketahui siapa bapaknya, sebagian lagi adalah anak-anak yang ditinggalkan ibunya (eks PSK Pucuk yang kini hijrah entah kemana). ”Tapi ada juga diantara anak-anak ini yang hasil turunan baik-baik, mereka anak-anak pemilik rumah di sini,” seorang ibu muda pendampingku mencoba menetralisir perasan kacau balauku.

Sayang, anak-anak ini agak anti pati dengan orang asing. Aku tak bisa banyak berdialog namun bisa menikmati gerak-gerik mereka selama beraktivitas di dalam Mushola. Ada yang serius menunggu giliran ngaji dengan sang guru, ada yang menjahili temannya dan ada juga yang menyendiri. Sebagai tamu tak diundang, mereka malah sempat balik menontonku sambil cekikikan usai membisikkan sesuatu di telinga temannya. Seandainya itu bukan suasana pengajian, pasti sudah kukejar mereka untuk kupeluk..hahaha.

Meski PSK, germo, aku tetap salut dan berterimakasih karena tetap mengizinkan anak-anaknya mengetahui banyak tentang ilmu agama. Bahkan sebagian besar anak, ada yang mengenakan pakaian bagus, topi rajut putih bersih, jilbab yang berbunga-bunga, dan baju yang sangat rapi, pertanda orang-orang yang melepas mereka berangkat mengaji sangat tulus dan penuh dukungan. Momen ini yang membuat aku berpikir, bahwa PSK yang ada di Pucuk tetap lah manusia biasa, yang juga punya nurani untuk bisa menjadi lebih baik, terutama bagi penerusnya.

Lantas, siapa orang kedua istimewa yang pernah aku temui selama perjalanan ke Pucuk? Dialah guru mengaji di Mushola Raudhotul Jannah. Namanya Syarifuddin K, masih sangat muda dan berstatus mahasiswa di salah satu PTN Kota Jambi. Syarifuddin bukan lah warga Pucuk, pemuda istimewa ini berasal dari wilayah Jambi bagian barat yaitu Tanjung Jabung.

Syarifuddin K, Pemuda "cute" yang mengajar ngaji di Lokalisasi Pucuk

Syarifuddin K (tengah), Pemuda cute yang ikhlas mengajar ngaji di Lokalisasi Pucuk meski sempat ditentang orang-orang terdekatnya..

Dalam berbincangan singkat ku dengan Syarifuddin, diketahui ternyata mengajar ngaji telah ia lakukan sejak sekolah di SMK. ”Tetapi mengajar di lokalisasi Pucuk baru saya lakukan satu tahun terakhir,” ujarnya. Keputusan memilih lokalisasi Pucuk bukanlah keputusan tanpa hambatan, orang-orang dekatnya sempat protes. Untung, tujuan mulianya membuat semua lega yaitu ingin ikut membantu menyelamatkan masa depan anak-anak di Lokalisasi dengn pengetahuan dasar agama. Syarifuddin pun tak pernah mematok biaya mengaji bagi para orang tua di lokalisasi ini, semua diserahkan sesuai dengan keikhlasan.

Setiap hari keluar masuk lokalisasi, tak pula membuat Syarifuddin galau. ”Karena niat masuk ke sini bukan ingin macam-macam,” terangnya lagi. Setiap hari berselisih jalan dengan para PSK, tak pula membuat ia gentar. Meski awalnya sempat mendapat perlakuan sikap yang tak nyaman, lama-lama ia disambut dengan alamiah layaknya seorang guru mengaji.

Orang istimewa lain yang aku temui adalah YY, seorang perempuan muda yang memilih hanya jadi tukang cuci para PSK daripada menjadi PSK yang notabene uangnya tentu lebih banyak.YY saat aku wawancarai bertahan tak mau menyebutkan nama aslinya, dengan alasan ia tak ingin diekspose karena takut dengan pelanggan cuciannya. Maklum, saat bertemu YY aku banyak mengorek tentang pola hidup para PSK yang ada di sana.

YY bukanlah perantau dari jauh, dia warga Jambi yang masuk ke Pucuk karena rekomendasi salah satu temannya di tempat ini. Sebelum ke Pucuk, ia telah dijanjikan pekerjaan sebagai pembuat es batu dan tukang masak. Tak berapa lama, ia pun sempat diajak menjadi PSK. ”Saya langsung tolak!, kami memang orang miskin tapi tak mau jual ini!,” tegas YY sambil memegang bagian bawah pusarnya.

Pekerjaan tukang cuci ia pilih karena harus menghidupi tiga anak kakak perempuannya yang meninggal saat melahirkan bayi terakhir, sementara sang kakak ipar tak tahu kemana rimbanya. Tukang cuci PSK memang bukan pekerjaan yang enak, ada-ada saja hal aneh yang ia temukan di lingkungan kerjanya. ”Tapi ini kan pekerjaan halal, saya juga nyuci di tempat lain, rencana akan berhenti karena ada yang ngajak saya jadi tukang masak di rumah makan, tentunya bukan di sini,” terangnya dengan wajah berbinar.

suasana di Pucuk saat hari AIDS 2008 kemarin...lengang...

Suasana di Pucuk pada hari AIDS 2008 kemarin...lengang...

Lantas siapa lagi yang istimewa? Menurut ku tidak banyak. Di lokalisasi ini aktivitas menyimpang dari norma terlalu kental…sangat sulit menemukan yang istimewa. Jika boleh jujur..kebanyakn orang-orang yang aku temukan di sini…takut ku tatap wajahnya telalu lama…aku takut berpikiran terlalu jauh dan terlalu negatif. Doa ku…tak ada lagi PSK baru yang masuk ke sini…

Oh ya..jika tiba waktunya peringatan hari HIV/AIDS, Pucuk akan menjadi buru-buruan LSM dan pemerintah untuk diperhatikan. Maklum, di sini potensi bersarangnya virus mematikan itu sangat tinggi. Spanduk, penyuluhan, pemeriksaan kesehatan dan cek sampel darah, dilakukan sebagai upaya menyadarkan para PSK. Bahkan PSK di pucuk diberi alternatif latihan ketrampilan jika mau berhenti menjadi PSK. Sayang…usaha itu lumayan sia-sia…para PSK lebih memilih tetap menjadi PSK dibanding jadi tukang jahit, tukang bordir, perangkai bunga atau apapun itu yang halal….jangan kan diajak keluar dari kehidupan PSK, diwawancara dengan janji data disimpan saja..susahnya minta ampuun…. ffhhh…semoga tuhan menyadarkan mereka suatu saat nanti…(***)

Perjalanan ke Lokalisasi Pucuk Jambi (Part-1)

•November 24, 2008 • 40 Comments

Tak bermaksud mengajak pembaca jadi ”penggemar” Lokalisasi Pucuk, posting kali ini aku hanya ingin bercerita tentang perjalanan ke Lokalisasi Pucuk, satu-satunya lokalisasi terbesar, terakomodir dan masih ilegal yang ada di Kota Jambi. Lokalisasi ini dipenuhi oleh para Pekerja Seks Komersil (PSK) yang didatangkan para ” mami-papi” dari berbagai penjuru negeri di Indonesia.

Tercatat 60 KK tinggal di sini, 1 KK memiliki 5 hingga puluhan anggota keluarga. Tentunya para anggota yang dimaksud adalah para PSK. Sejak empat tahun terakhir, sudah empat kali aku masuk ke lokalisasi ini untuk kepentingan liputan. Anehnya, meski terbilang sudah sering, perasaan asing dan tak nyaman tetap saja terasa

Kunjungan pertama ku pada tahun 2005. Ditemani Bang Fahmi, fotografer Jambi Ekspres, kunjungan ini nyaris tanpa hambatan. Didampingi orang yang sangat tepat, Bang Fahmi sangat akrab dan familiar di lokasi ini…entah karena keseringan ikut Polisi atau Pamong Praja razia untuk kepentingan foto atau karena pelanggan sini…hahahahaha. Bang Fahmi kenal dekat dengan Ketua RT dan beberapa Mami yang ada di sini, semua data dan wawancara jadi gampang. ”Tenang don…u akan aman jalan sama i…u tak akan i jual di sini…hahahaha” iiiih Bang Fahmi sempat buat aku ketakutan.

Suasana di Pucuk, gambar ini aku ambil diam-diam. Terlihat ada anak-anak, wanita hamil dan para gadis yang diduga kuat adalah PSK mengintip dari balkon rumah si-Mami

Suasana di Pucuk, gambar ini aku ambil diam-diam. Tampak ada anak-anak, wanita hamil dan mengintip dari balkon rumah si-Mami, perempuan yang diduga kuat adalah PSK

Masuk ke lokalisasi ini, kita harus melewati gerbang khusus dengan penjaga super seram. Sebelum masuk akan ada kayu palang yang akan menghalang. Setor Rp 2000 baru deh bisa masuk. Begitu masuk, langsung terasa suasana ”asing”. Rumah di lokalisasi ini sangat padat, ada yang bagus, sedang dan sangat jelek. Satu-satu terlihat merek Bar, Karaoke juga tampak warung biasa. Pucuk termasuk area strategis, berada di tengah kota namun sedikit terisolasi. Semua jenis rumah di sini pun sangat khas, dipenuhi wanita-wanita sexi.

Pada malam hari, perempuan-perempuan ini akan dandan, menunggu pelanggan di rumah masing-masing atau beredar di sekitar lokalisasi. Uniknya, siang hari mereka pun tetap beraksi namun tak pake dandan habis-habisan. Saat melihat kedatangan kami, para perempuan dengan pakaian minimalis casual, sempat menggoda Bang Fahmi, padahal saat itu Bang Fami lagi membonceng perempuan sangat istimewa…aku…. ”Bang tunggu…bang…bang…mampir…” duh…aku benar-benar merinding mendengar rengek mereka.

Jalan di lokalisasi Pucuk terdiri dari gang-gang. Gang utama bisa dilalui kendaraan roda empat dan gang kecil hanya bisa dilewati kendaraan roda dua. Semua gang didereti rumah berisikan PSK. Rumah di gang utama biasanya lebih megah dan mampu menampung banyak anggota. Berbeda dengan rumah-rumah yang ada di gang kecil , ada yang permanen dan semi permanen.

Pengunjung langganan lokalisasi ini berasal dari berbagai kalangan, tentunya kelompok para pria hidung belang, kesepian, tak beriman dan juga tak menghargai perasaan keluarga. Namun jangan salah, ada juga yang datang hanya karena penasaran, pekerjaan (seperti diriku heheh), kepentingan politik atau ingin melakukan kegiatan sosial. Namun tetap saja, karena ini bukan area umum, masuk ke lokalisasi harus banyak yang dipersiapkan terutama mental.

Kalau Anda seorang pria, siapkan mental menahan godaan dari para PSK yang tampangnya beragam, dari yang ayu, sintal, montok, berpakaian sexi, genit, bonding, pirang, ikal, muka putih badan hitam, kuning dan yang pasti sangat bisa menggoda. Nah kalau Anda wanita, siapkan mental menerima pandangan aneh dari penghuni Pucuk. Tamu wanita yang tak dikenal biasanya akan ditatap dengan pandangan heran dan tak menyenangkan.

Alasan di atas pula yang membuat aku tak pernah berani berfoto ria di lokalisasi ini. Sifat narsis ku ciut…hihihi,,,Maklum, penghuni di sini paling alergi kalau ada yang datang membawa kamera. Bang Fahmi yang sudah akrab itu saja masih berpikir panjang saat mau menjepret di area ini. ”Nah itu lah sebabnya, mengapa i disenangi di sini, meski sering jeprat-jeprit..tapi reputasi orang sini harus tetap dijaga…” Bang Fami nge-les…heheheh…

Satu lagi yang harus diketahui, di lokalisasi Pucuk juga banyak terjadi tragedi, mulai dari tewasnya pria hidung belang berjabatan kepala desa, pengusaha, pegawai negeri, dll, diduga karena minum obat kuat sebelum indehoy dengan penghuni sana. Di sini juga tercatat banyak kasus narkoba, senjata tajam, dan kasus kriminal lainnya.

Namun jangan salah…penghuni Pucuk tetaplah manusia biasa…ada banyak kisah yang menyentuh hati terjadi di sini…..cerita perjalanan selanjutnya bersambung ya…………..(@_@)

.

Narsis? Hahaha Gpp Lah…Toh..Seringkali..

•November 18, 2008 • 17 Comments

Aku orangnya sangat hobi difoto..saking hobinya…saat kelas satu SMP aku sudah punya kamera Kodak sendiri, kamera konvensional tentunya. Nah gawatnya, sejak punya kamera sendiri hingga hari ini, aku tuh ngga pernah bosan sama yang namanya difoto. Sayang aja ngga punya bodi peragawati…kalo punya..udah jadi foto model kali..hahaha…

ehm..ehm...nyanyinya sih ngga seberapa...tp pas tau ada kameranya..gaya nya itu bok...

ehm..ehm...nyanyinya sih ngga seberapa...tp pas tau ada kameranya..gaya nya itu bok...

tukang foto keliling yang ngambil momen ini kata ibuku lama sudah tak terlihat...

tukang foto keliling yang ngambil momen ini kata ibuku lama sudah tak terlihat...

belum lahir aja...aku udah hobi di foto....aku lg di perut nih..

belum lahir aja...aku udah hobi di foto....aku lg di perut nih..

Kata ibuku…waktu kecil biaya hidup ku lebih berat untuk biaya foto dibanding jajan. Kalo udah tiba waktu pasar pekan (Di kampungku ada pasar dadakan setiap Sabtu), aku pasti akan merengek minta difoto ma tukang foto keliling sana. “Makanya waktu SMP, kamu kubelikan Kodak, biar ngga bikin repot lagi,” gerutu ibuku. Hahaha…Asyiiikkkkk…Sejak itu lah…aku akan memaksimalkan pemanfaatan tiap nomer rol filem si Kodak itu. Aku juga akan milih orang untuk diminta tolong moto-in aku…biar ngga hangus dan hasilnya bagus…

pulang nagih kredit..poto dulu aaah...

pulang nagih kredit..poto dulu aaah...

Dikeliling sama Suku Anak Dalam Jambi...cheeeeesssss

Dikeliling sama Suku Anak Dalam Jambi...cheeeeesssss

pohon paling tua di tengah Kota Jambi..poto dulu ah...

pohon paling tua di tengah Kota Jambi..poto yuuuukkk..

Hingga hari ini…sifat hobi fotoku ngga hilang-hilang. Di komputer kantor, rumah, laptop, HP, semua pasti terselip koleksi foto-fotoku. Beda dengan fotoku tempoe doele produksi si Kodak semua hasil cetakannya hingga hari ini masih tersimpan rapi di puluhan album-album kesayangan ku. Akan indah kalo dilihat lagi….lucu…kuno dan narsis tentunya! hihihih

pose three...di tunggu papi...tetep aja gaya dulu...hahaha

pose three...di tunggu papi...tetep aja gaya dulu...hahaha

pose one..

pose one..saat body ku lagi ehem ehem..hihi

pose two...ma harimau mitasi..

pose two...ma harimau mitasi..

Lain dulu lain sekarang. Dulu aku suka foto dengan properti apa saja, nah sekarang aku udah mulai selektif, ngga hanya sekedar gaya, berfoto ria bagiku juga harus punya makna. Tentunya juga harus dengan orang-orang bermakna. Sering dibilang narsis, tapi kini aku sangat suka menyimpan koleksi foto saat bersama orang-orang penting. Entah itu aku suka apa ngga, yang penting selagi itu orang penting, ya aku mau foto ma dia….hahaha.

with pengusaha sukses RI

with pengusaha sukses RI

with calon RI-1

with calon RI-1

with artis yang gayanya paling aku benci...hahahaha...tp karena judulnya dipoto...yuuukkk mariiii....

with artis yang gayanya paling aku benci...hahahaha...tp karena judulnya dipoto...yuuukkk mariiii....


Tapi teteeeeeep…..dimana saja berdiri dan kapan saja. Saat lagi mood meski ngga ada orang penting tetap harus foto…1..2…3…yaaap!!!! Foto dah pokoknya poto!!!. “Gila lu don, narsis banget!, suka difoto ntar umur lo pendek! Gw belum siap dihantui ma orang banyak dosa kayak lo!,” Si Lina, teman curhat ku sering bikin sewot dengan nasihat gaibnya itu. …. Tp Dasar Hobi…Ngga peduli…biarin NARSIS..toh juga udh seringkali….Hidup Foto!!!!!!

Go Obama !!!!

•November 6, 2008 • 7 Comments

Pidati Kemengan Obama Tanpa Teks

Pidato Kemenangan Obama Tanpa Teks

“Bagi Pemirsa di seluruh dunia, takdir ini akan kita rasakan bersama!,”. Kalimat ini diucapkan Obama saat pidato kemenangannya, aku kutip dari siaran langsung MetroTV siang kemarin (5/11).

Situs, Televisi, Radio, Semua Menggemakan Kemenangan Obama

Situs, Televisi, Radio, Semua Menggemakan Kemenangan Obama

Benar saja, kemengan Obama mampu dirasakan banyak orang, meski berbeda negara, suku dan ras, termasuk aku!. Sebagai fans berat Obama, tak salah pula kiranya mengapa aku sangat fokus dengan kemenangan Obama. Mengikuti secara cermat detik-detik kemenangannya. Menunggu dengan sabar pidato kemengannya dari televisi nasional, tak beranjak dari situs-situs yang menayangkan tentang kemenangan Obama.

Tak bisa dijabarkan dengan banyak kata, bangga dan salut, hanya ini yang bisa aku lukiskan tentang sosok muda yang tampil apik, professional dan juga memiliki visi tak biasa ini. Go Obama…!!! Semoga di Indonesia, akan lahir sosok-sosok seperti Obama, dan juga suasana berdemokrasi seperti saat pemilihan Obama.

Obama dan sang istri Michelle sesaat sebelum Pidato Kemengannya kemarin (5/11)

Obama dan sang istri Michelle sesaat sebelum Pidato Kemengannya kemarin (5/11)

Tak bermaksud plagiat, foto-foto saat pidato kemengan Obama ini, kemarin siang, aku “curi” dari tayangan MetroTV untuk koleksi pribadi agar bisa pula dinikmati bersama. Tidak untuk diperjualbelikan…hehehe….