Pangendum, Anak Rimba Sahabatku….

•December 15, 2008 • 56 Comments

Pemuda Telanjang, ini yang terekam saat pertemuan pertama ku dengan Pangendum pada tahun 2006 lalu. Telanjang karena saat itu ia hanya menggunakan selembar kain untuk menutup bagian “kelaki-lakiannya”. Tidak seperti pakaian pria umumnya, Pangendum hanya menggunakan lilitan kain panjang yang menutupi aurat. Terakhir baru aku ketahui pakaian khas Suku Anak Dalam atau Orang Rimba asal Bukit Duabelas Jambi itu bernama cawot.

-)

Aku bersama orang Orang Rimba asal Makekal Hulu Bukit Dua Belas Jambi, Pangendum ada di belakangku, samping kanan bapak berjenggot...yang paling cakep.. :-) ...semua mereka ber-cawot...

Menjadi wartawan telah membuat aku banyak mengenal orang dan banyak punya teman. Pangendum salah satunya. Ia bukan pemuda biasa, Pangendum adalah anak muda asli Orang Rimba yang lahir dan tumbuh di dalam hutan Jambi. Bagi kaum Orang Rimba yang muda seperti Pangendum..disebut dengan Anak Rimba….

Perkenalan kami berawal ketika Pangendum bersama puluhan Orang Rimba lainnya datang ke Dinas Kehutanan Provinsi Jambi untuk berjuang mempertahankan Hutan Bukit Duabelas, agar tetap bisa dihuni kaum Orang Rimba dan tidak dikuasai dengan semena-mena oleh pemerintah maupun orang luar. Ketika itu aku meliput kehadiran mereka.

Sejak itu pula, aku dan Pangendum syah menjadi sahabat. Kami sering berkomunikasi, bertemu langsung maupun melalui telepon seluler. Biasanya kami membicarakan banyak hal, mulai dari pendidikan, HAM, hutan dan hal-hal ringan tentang kehidupannya yang terkadang mampu membuat aku takjub saat mendengarnya.

Pangendum di ladang padi dalam hutan Bukit Dua Belas Jambi...Thanks atas fotonya...foto istimewa dari Aa' Dani..Pendamping Orang Rimba - Sokola..

Pangendum di ladang padi dalam hutan Bukit Dua Belas Jambi...Thanks atas fotonya...foto istimewa dari Aa' Dani..Pendamping Orang Rimba - Sokola..

Meski tak mengetahui tanggal dan tahun berapa ia lahir, karena ia sendiri sering bingung saat ditanya tentang hal ini, tapi bisa aku perkirakan usia Pangendum kini sekitar 23-24 tahun.

Saat kecil, Pangendum sama dengan anak-anak Rimba lainnnya. Ia banyak menghabiskan waktu untuk berburu hewan, mencari buah-buahan atau menggali umbi-umbian untuk dimakan atau sekedar dijadikan mainan. Dari Pangendum pula aku tahu, ternyata saat yang tepat berburu Babi adalah ketika hujan turun. ”Karena saat hujan, babi-babi akan bersembunyi di goa-goa, saat itu kita akan mudah memburunya,” terang Pangendum. Senang sekali mendengar kisah-kisah dan ceritanya.

Kami lumayan sering bertemu, meski tinggal jauh di area Hutan Bukit Dua Belas Makekal Hulu Bangko Kabupaten Merangin Jambi – sekitar 8 jam ke Kota Jambi dari pinggiran hutan. Pangendum sering datang ke Kota Jambi untuk berbagai keperluan dan menginap di basecamp LSM Lingkungan Walhi. Jika sama-sama punya kesempatan, kami akan bertemu, makan dan bercerita tentang karya-karya yang telah ia kerjakan.

Aku punya cerita lucu saat pertama kali hanging out dengan Pangendum di Kota Jambi..Saat keliling kota, aku membonceng Pangendum dengan sepeda motor. Situasi ini membuat kami jadi pemandangan banyak orang. Pangendum yang sehat bugar itu pun tak luput dari lirikan aneh pengguna jalan lain yang kebetulan berpasan dengan kami. Berhenti di lampu merah, semua mata melihat aneh kami.

Sejak awal keberangkatan, sebenarnya Pangendum telah menawarkan diri untuk memboncengku. Mungkin emang dasar akunya yang jahat…aku tak langsung yakin ia bisa mengendarai motor dengan baik…aku cemas jangan-jangan dia tak paham mengartikan rambu-rambu lalu lintas…Bagaimanapun, di hutan mana ada jalan raya, mana ada lampu merah, mana ada jembatan beton, mana ada sepeda motor…Ah…aku benar-benar merasa jahat jika ingat itu…

Manisnya, Pangendum sangat mengerti rasa ketidakpercayaanku kepadanya. Terlihat ia tak mau merusak acara hanging out kami. Ia asyoi amboi aja diboonceng…buuummm…buuum….berkeliling lah kami….

Capek keliling…Pangendum mulai memberi aku kejutan dengan pengakuannya yang bikin aku tak enak hati…”Kamu harus tahu, di Bangko saya sering ngebut bawa motor, paling mahir lari kalau dikejar polisi karena saya jarang pakai helem, di basecamp LSM sana kan banyak motor, sejak aktif bersama mereka, sejak itu pula aku bisa membawa motor,” Pangendum bercerita…duuh…karena udah terlanjur sok hebat…akhirnya aku harus tetap membonceng Pangendum dan tahan gengsi..

Al hasil…malam harinya aku kecapean…bobot berat Pangendum yang lumayan gilee telah membuat aku ekstra maksimal mengeluarkan energi, menyeimbangkan sepeda motor, membawa Pangendum berkeliling kota…uuufffhhhh….

Pangendum dan Aku...foto bareng Kepala TVRI Jambi Pak Haryono saat masih menjabat...Pak Haryono sempat penasaran ingin kenal dengan Pangendum..hasilnya..kami berdua ke TVRI dan ngobrol panjang tentang filem karya Pangendum dkk...

Aku dan Pengendum...foto bareng Kepala TVRI Jambi Pak Haryono saat masih menjabat...Pak Haryono sempat penasaran ingin kenal dengan Pangendum..hasilnya..kami berdua ke TVRI dan ngobrol panjang tentang filem karya Pangendum dkk...

Bersahabat dengan pangendum, aku merasa aman dan nyaman. Orang Rimba teramat menghargai kaum perempuan. Di lingkungan mereka di hutan, perempuan yang tak memiliki hubungan perkawinan dengan pria, dilarang keras bertemu dengan jarak dekat. Bahkan menurut Pangendum, di Rimba tidak pernah terjadi hal-hal di luar norma.

Padahal kaum perempuan Rimba sangat sexi, tidak menggunakan penutup dada. Pria dan wanita di Rimba saling menghargai, mereka jauh lebih beradat dan berperilaku sopan dibanding orang-orang luar yang berpendidikan tinggi. Demikian pula Pangendum, dia sangat sopan.

Berkomunikasi dengan pengendum aku menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Orang Rimba memiliki bahasa khas yang susah dipahami. Pangendum sendiri sangat mahir berbahasa Indonesia namun tak bisa bahasa Jambi. ”Karena di Rimba saat belajar kami diajarkan guru berbahasa Indonesia dan bukan bahasa Jambi,” alasan Pangendum.

Kadang aku keceplosan juga menggunakan Bahasa Jambi saat berbincang dengan Pangendum. ”Aduh tolong, jangan pakai bahasa Jambi, kamu bicaranya cepat-cepat pula, saya tidak mengerti,” Pangendum langsung protes.. Kadang kalo lagi usil, aku sengaja bicara Bahasa Jambi dengan ritme cepat, Pengendum akan mengernyitkan kening tanda bingung dan tak paham…haha. Untung akhir-akhir ini Pangendum sudah mulai banyak paham kosa kata Bahasa ‘gaul’ Jambi.

Bicara soal talenta, Pangendum adalah gudang talenta. Meski tidak pernah mengenyam pendidikan formal sekolah karena hidup di lebatnya hutan, ia tetap bisa membaca, menulis, memahami hukum bahkan sangat kritis. Semua ia pelajari dari LSM yang konsen memberikan pendidikan kepada Orang Rimba. Tahun 2001 lalu, Pangendum sempat menjadi murid Butet Manurung – aktivis dan juga penulis yang fokus pada Suku Anak Dalam Jambi dan di daerah lain nusantara.

Bekal ilmu itu pula, Pangendum kini akhirnya bisa menjadi guru bagi anak-anak Rimba lainnya, mengajar menulis, membaca, berhitung dan menularkan ilmu lain yang ia punya. Bahkan Pangendum telah bisa beradaptasi dengan lingkungan luar nan modern. Ia kini bisa menggunakan ponsel, laptop, bahkan bersama sahabat sesama Anak Rimba dari Kelompok Makekal Bersatu, Pangendum telah membuat filem berjudul Menunjuko atau Rimba Rumah Kami.

Hamparan hutan Bukit Dua Belas Jambi..eksistensinya semakin terancam...foto ini menggambarkan kondisi hutan yang terbakar dan ditebang orang-orang tak bertanggung jawab...foto aku ambil saat melewati hutan Bukit Dua Belas dari atas Heli Polda saat menuju ke lokasi longsor Kerinci-Merangin tahun lalu.

Hamparan hutan Bukit Dua Belas Jambi..eksistensinya semakin terancam...foto ini menggambarkan kondisi hutan gundul bekas dibakar dan ditebang orang-orang tak bertanggung jawab...foto aku ambil saat melewati hutan Bukit Dua Belas dari atas heli milik Polda saat menuju ke lokasi longsor Kerinci-Merangin tahun lalu.

Pangendum pun kini aktif sebagai aktivis pendidikan dan lingkungan yang fokus pada kelestarian hutan Bukit Dua Belas, menentang keras penebangan kayu liar dan fokus memperjuangkan area tempat tinggal Orang Rimba tinggal. Pangendum..sahabat ku itu telah jadi orang hebat bagi kaumnya. Meski aktif bersama orang luar…ia tetap tak melupakan ‘rimba’nya…tetap pulang ke hutan…ke rimba…tempat ia dibesarkan…(***)

Perjalanan ke Lokalisasi Pucuk Jambi (Part-2)

•December 4, 2008 • 30 Comments

Posting Part-1, aku telah memberi gambaran tentang suasana di area Pucuk. Sejak perjalanan pertama pada tahun 2005 itu, secara berturut-turut setiap tahun aku menginjakkan kaki ke tempat yang penuh PSK ini. Tetap dengan tujuan yang sama yaitu meliput berita.

Posting kali ini, aku tak ingin banyak cerita tentang bagaimana para PSK yang ada di sini. Mengingat, menimbang, semua kita pasti juga sangat paham profesi mereka, pekerja seks yang melayani kepuasan pelanggan untuk mendapatkan uang. PSK di pucuk juga sama dengan PSK yang ada di lokalisasi lain. Ada yang paham dan sadar akan potensi terjangkit penyakit dan ada pula yang sebaliknya. Ada yang semangat saat digelar program vaksinisasi/ pemeriksaan kesehatan, ada pula yang ogah-ogahan.

Berhubung tak mau cerita panjang tentang PSK. Aku ingin langsung berkisah tentang sosok-sosok non PSK yang hidup, tinggal dan juga ikut bekerja di lingkungan lokalisasi Pucuk. Perjalanan beberapa kali ke sana telah membuat aku banyak bertemu dengan sosok istimewa ini. Tak kalah membuat kagum..mereka mampu bertahan hidup di tengah para perempuan yang setiap hari menjajakan kelaminnya untuk orang yang tak jelas asal usulnya.

Yup..lets move on….Berbicara tentang orang istimewa ….pertama yang aku temui adalah anak-anak para PSK. Mengapa aku katakan mereka istimewa? Pertama, karena kebanyakan mereka adalah korban para PSK. Kedua, karena pertemuan kami terjadi di sebuah Mushola. Di tempat ibadah bernama Raudhotul Jannah itu, aku menemukan hampir 50 wajah-wajah tanpa dosa tengah semangat belajar agama.

anak-anak itu...adalah anak PSK, germo, sebagian juga adalah anak mantan PSK Pucuk yang kini ditinggal pergi ibunya...

anak-anak itu...adalah anak PSK, germo, sebagian juga adalah anak mantan PSK Pucuk yang kini ditinggal pergi ibunya...

Awal menginjakkan kaki di pintu Mushola, aku langsung merasakan kecamuk yang luar biasa…merinding, terpana dan kagum. Dari informasi yang berhasil aku himpun, sebagian besar dari anak-anak ini adalah anak ”haram” yang tak diketahui siapa bapaknya, sebagian lagi adalah anak-anak yang ditinggalkan ibunya (eks PSK Pucuk yang kini hijrah entah kemana). ”Tapi ada juga diantara anak-anak ini yang hasil turunan baik-baik, mereka anak-anak pemilik rumah di sini,” seorang ibu muda pendampingku mencoba menetralisir perasan kacau balauku.

Sayang, anak-anak ini agak anti pati dengan orang asing. Aku tak bisa banyak berdialog namun bisa menikmati gerak-gerik mereka selama beraktivitas di dalam Mushola. Ada yang serius menunggu giliran ngaji dengan sang guru, ada yang menjahili temannya dan ada juga yang menyendiri. Sebagai tamu tak diundang, mereka malah sempat balik menontonku sambil cekikikan usai membisikkan sesuatu di telinga temannya. Seandainya itu bukan suasana pengajian, pasti sudah kukejar mereka untuk kupeluk..hahaha.

Meski PSK, germo, aku tetap salut dan berterimakasih karena tetap mengizinkan anak-anaknya mengetahui banyak tentang ilmu agama. Bahkan sebagian besar anak, ada yang mengenakan pakaian bagus, topi rajut putih bersih, jilbab yang berbunga-bunga, dan baju yang sangat rapi, pertanda orang-orang yang melepas mereka berangkat mengaji sangat tulus dan penuh dukungan. Momen ini yang membuat aku berpikir, bahwa PSK yang ada di Pucuk tetap lah manusia biasa, yang juga punya nurani untuk bisa menjadi lebih baik, terutama bagi penerusnya.

Lantas, siapa orang kedua istimewa yang pernah aku temui selama perjalanan ke Pucuk? Dialah guru mengaji di Mushola Raudhotul Jannah. Namanya Syarifuddin K, masih sangat muda dan berstatus mahasiswa di salah satu PTN Kota Jambi. Syarifuddin bukan lah warga Pucuk, pemuda istimewa ini berasal dari wilayah Jambi bagian barat yaitu Tanjung Jabung.

Syarifuddin K, Pemuda "cute" yang mengajar ngaji di Lokalisasi Pucuk

Syarifuddin K (tengah), Pemuda cute yang ikhlas mengajar ngaji di Lokalisasi Pucuk meski sempat ditentang orang-orang terdekatnya..

Dalam berbincangan singkat ku dengan Syarifuddin, diketahui ternyata mengajar ngaji telah ia lakukan sejak sekolah di SMK. ”Tetapi mengajar di lokalisasi Pucuk baru saya lakukan satu tahun terakhir,” ujarnya. Keputusan memilih lokalisasi Pucuk bukanlah keputusan tanpa hambatan, orang-orang dekatnya sempat protes. Untung, tujuan mulianya membuat semua lega yaitu ingin ikut membantu menyelamatkan masa depan anak-anak di Lokalisasi dengn pengetahuan dasar agama. Syarifuddin pun tak pernah mematok biaya mengaji bagi para orang tua di lokalisasi ini, semua diserahkan sesuai dengan keikhlasan.

Setiap hari keluar masuk lokalisasi, tak pula membuat Syarifuddin galau. ”Karena niat masuk ke sini bukan ingin macam-macam,” terangnya lagi. Setiap hari berselisih jalan dengan para PSK, tak pula membuat ia gentar. Meski awalnya sempat mendapat perlakuan sikap yang tak nyaman, lama-lama ia disambut dengan alamiah layaknya seorang guru mengaji.

Orang istimewa lain yang aku temui adalah YY, seorang perempuan muda yang memilih hanya jadi tukang cuci para PSK daripada menjadi PSK yang notabene uangnya tentu lebih banyak.YY saat aku wawancarai bertahan tak mau menyebutkan nama aslinya, dengan alasan ia tak ingin diekspose karena takut dengan pelanggan cuciannya. Maklum, saat bertemu YY aku banyak mengorek tentang pola hidup para PSK yang ada di sana.

YY bukanlah perantau dari jauh, dia warga Jambi yang masuk ke Pucuk karena rekomendasi salah satu temannya di tempat ini. Sebelum ke Pucuk, ia telah dijanjikan pekerjaan sebagai pembuat es batu dan tukang masak. Tak berapa lama, ia pun sempat diajak menjadi PSK. ”Saya langsung tolak!, kami memang orang miskin tapi tak mau jual ini!,” tegas YY sambil memegang bagian bawah pusarnya.

Pekerjaan tukang cuci ia pilih karena harus menghidupi tiga anak kakak perempuannya yang meninggal saat melahirkan bayi terakhir, sementara sang kakak ipar tak tahu kemana rimbanya. Tukang cuci PSK memang bukan pekerjaan yang enak, ada-ada saja hal aneh yang ia temukan di lingkungan kerjanya. ”Tapi ini kan pekerjaan halal, saya juga nyuci di tempat lain, rencana akan berhenti karena ada yang ngajak saya jadi tukang masak di rumah makan, tentunya bukan di sini,” terangnya dengan wajah berbinar.

suasana di Pucuk saat hari AIDS 2008 kemarin...lengang...

Suasana di Pucuk pada hari AIDS 2008 kemarin...lengang...

Lantas siapa lagi yang istimewa? Menurut ku tidak banyak. Di lokalisasi ini aktivitas menyimpang dari norma terlalu kental…sangat sulit menemukan yang istimewa. Jika boleh jujur..kebanyakn orang-orang yang aku temukan di sini…takut ku tatap wajahnya telalu lama…aku takut berpikiran terlalu jauh dan terlalu negatif. Doa ku…tak ada lagi PSK baru yang masuk ke sini…

Oh ya..jika tiba waktunya peringatan hari HIV/AIDS, Pucuk akan menjadi buru-buruan LSM dan pemerintah untuk diperhatikan. Maklum, di sini potensi bersarangnya virus mematikan itu sangat tinggi. Spanduk, penyuluhan, pemeriksaan kesehatan dan cek sampel darah, dilakukan sebagai upaya menyadarkan para PSK. Bahkan PSK di pucuk diberi alternatif latihan ketrampilan jika mau berhenti menjadi PSK. Sayang…usaha itu lumayan sia-sia…para PSK lebih memilih tetap menjadi PSK dibanding jadi tukang jahit, tukang bordir, perangkai bunga atau apapun itu yang halal….jangan kan diajak keluar dari kehidupan PSK, diwawancara dengan janji data disimpan saja..susahnya minta ampuun…. ffhhh…semoga tuhan menyadarkan mereka suatu saat nanti…(***)

Perjalanan ke Lokalisasi Pucuk Jambi (Part-1)

•November 24, 2008 • 24 Comments

Tak bermaksud mengajak pembaca jadi ”penggemar” Lokalisasi Pucuk, posting kali ini aku hanya ingin bercerita tentang perjalanan ke Lokalisasi Pucuk, satu-satunya lokalisasi terbesar, terakomodir dan masih ilegal yang ada di Kota Jambi. Lokalisasi ini dipenuhi oleh para Pekerja Seks Komersil (PSK) yang didatangkan para ” mami-papi” dari berbagai penjuru negeri di Indonesia.

Tercatat 60 KK tinggal di sini, 1 KK memiliki 5 hingga puluhan anggota keluarga. Tentunya para anggota yang dimaksud adalah para PSK. Sejak empat tahun terakhir, sudah empat kali aku masuk ke lokalisasi ini untuk kepentingan liputan. Anehnya, meski terbilang sudah sering, perasaan asing dan tak nyaman tetap saja terasa

Kunjungan pertama ku pada tahun 2005. Ditemani Bang Fahmi, fotografer Jambi Ekspres, kunjungan ini nyaris tanpa hambatan. Didampingi orang yang sangat tepat, Bang Fahmi sangat akrab dan familiar di lokasi ini…entah karena keseringan ikut Polisi atau Pamong Praja razia untuk kepentingan foto atau karena pelanggan sini…hahahahaha. Bang Fahmi kenal dekat dengan Ketua RT dan beberapa Mami yang ada di sini, semua data dan wawancara jadi gampang. ”Tenang don…u akan aman jalan sama i…u tak akan i jual di sini…hahahaha” iiiih Bang Fahmi sempat buat aku ketakutan.

Suasana di Pucuk, gambar ini aku ambil diam-diam. Terlihat ada anak-anak, wanita hamil dan para gadis yang diduga kuat adalah PSK mengintip dari balkon rumah si-Mami

Suasana di Pucuk, gambar ini aku ambil diam-diam. Tampak ada anak-anak, wanita hamil dan mengintip dari balkon rumah si-Mami, perempuan yang diduga kuat adalah PSK

Masuk ke lokalisasi ini, kita harus melewati gerbang khusus dengan penjaga super seram. Sebelum masuk akan ada kayu palang yang akan menghalang. Setor Rp 2000 baru deh bisa masuk. Begitu masuk, langsung terasa suasana ”asing”. Rumah di lokalisasi ini sangat padat, ada yang bagus, sedang dan sangat jelek. Satu-satu terlihat merek Bar, Karaoke juga tampak warung biasa. Pucuk termasuk area strategis, berada di tengah kota namun sedikit terisolasi. Semua jenis rumah di sini pun sangat khas, dipenuhi wanita-wanita sexi.

Pada malam hari, perempuan-perempuan ini akan dandan, menunggu pelanggan di rumah masing-masing atau beredar di sekitar lokalisasi. Uniknya, siang hari mereka pun tetap beraksi namun tak pake dandan habis-habisan. Saat melihat kedatangan kami, para perempuan dengan pakaian minimalis casual, sempat menggoda Bang Fahmi, padahal saat itu Bang Fami lagi membonceng perempuan sangat istimewa…aku…. ”Bang tunggu…bang…bang…mampir…” duh…aku benar-benar merinding mendengar rengek mereka.

Jalan di lokalisasi Pucuk terdiri dari gang-gang. Gang utama bisa dilalui kendaraan roda empat dan gang kecil hanya bisa dilewati kendaraan roda dua. Semua gang didereti rumah berisikan PSK. Rumah di gang utama biasanya lebih megah dan mampu menampung banyak anggota. Berbeda dengan rumah-rumah yang ada di gang kecil , ada yang permanen dan semi permanen.

Pengunjung langganan lokalisasi ini berasal dari berbagai kalangan, tentunya kelompok para pria hidung belang, kesepian, tak beriman dan juga tak menghargai perasaan keluarga. Namun jangan salah, ada juga yang datang hanya karena penasaran, pekerjaan (seperti diriku heheh), kepentingan politik atau ingin melakukan kegiatan sosial. Namun tetap saja, karena ini bukan area umum, masuk ke lokalisasi harus banyak yang dipersiapkan terutama mental.

Kalau Anda seorang pria, siapkan mental menahan godaan dari para PSK yang tampangnya beragam, dari yang ayu, sintal, montok, berpakaian sexi, genit, bonding, pirang, ikal, muka putih badan hitam, kuning dan yang pasti sangat bisa menggoda. Nah kalau Anda wanita, siapkan mental menerima pandangan aneh dari penghuni Pucuk. Tamu wanita yang tak dikenal biasanya akan ditatap dengan pandangan heran dan tak menyenangkan.

Alasan di atas pula yang membuat aku tak pernah berani berfoto ria di lokalisasi ini. Sifat narsis ku ciut…hihihi,,,Maklum, penghuni di sini paling alergi kalau ada yang datang membawa kamera. Bang Fahmi yang sudah akrab itu saja masih berpikir panjang saat mau menjepret di area ini. ”Nah itu lah sebabnya, mengapa i disenangi di sini, meski sering jeprat-jeprit..tapi reputasi orang sini harus tetap dijaga…” Bang Fami nge-les…heheheh…

Satu lagi yang harus diketahui, di lokalisasi Pucuk juga banyak terjadi tragedi, mulai dari tewasnya pria hidung belang berjabatan kepala desa, pengusaha, pegawai negeri, dll, diduga karena minum obat kuat sebelum indehoy dengan penghuni sana. Di sini juga tercatat banyak kasus narkoba, senjata tajam, dan kasus kriminal lainnya.

Namun jangan salah…penghuni Pucuk tetaplah manusia biasa…ada banyak kisah yang menyentuh hati terjadi di sini…..cerita perjalanan selanjutnya bersambung ya…………..(@_@)

.

Narsis? Hahaha Gpp Lah…Toh..Seringkali..

•November 18, 2008 • 15 Comments

Aku orangnya sangat hobi difoto..saking hobinya…saat kelas satu SMP aku sudah punya kamera Kodak sendiri, kamera konvensional tentunya. Nah gawatnya, sejak punya kamera sendiri hingga hari ini, aku tuh ngga pernah bosan sama yang namanya difoto. Sayang aja ngga punya bodi peragawati…kalo punya..udah jadi foto model kali..hahaha…

ehm..ehm...nyanyinya sih ngga seberapa...tp pas tau ada kameranya..gaya nya itu bok...

ehm..ehm...nyanyinya sih ngga seberapa...tp pas tau ada kameranya..gaya nya itu bok...

tukang foto keliling yang ngambil momen ini kata ibuku lama sudah tak terlihat...

tukang foto keliling yang ngambil momen ini kata ibuku lama sudah tak terlihat...

belum lahir aja...aku udah hobi di foto....aku lg di perut nih..

belum lahir aja...aku udah hobi di foto....aku lg di perut nih..

Kata ibuku…waktu kecil biaya hidup ku lebih berat untuk biaya foto dibanding jajan. Kalo udah tiba waktu pasar pekan (Di kampungku ada pasar dadakan setiap Sabtu), aku pasti akan merengek minta difoto ma tukang foto keliling sana. “Makanya waktu SMP, kamu kubelikan Kodak, biar ngga bikin repot lagi,” gerutu ibuku. Hahaha…Asyiiikkkkk…Sejak itu lah…aku akan memaksimalkan pemanfaatan tiap nomer rol filem si Kodak itu. Aku juga akan milih orang untuk diminta tolong moto-in aku…biar ngga hangus dan hasilnya bagus…

pulang nagih kredit..poto dulu aaah...

pulang nagih kredit..poto dulu aaah...

Dikeliling sama Suku Anak Dalam Jambi...cheeeeesssss

Dikeliling sama Suku Anak Dalam Jambi...cheeeeesssss

pohon paling tua di tengah Kota Jambi..poto dulu ah...

pohon paling tua di tengah Kota Jambi..poto yuuuukkk..

Hingga hari ini…sifat hobi fotoku ngga hilang-hilang. Di komputer kantor, rumah, laptop, HP, semua pasti terselip koleksi foto-fotoku. Beda dengan fotoku tempoe doele produksi si Kodak semua hasil cetakannya hingga hari ini masih tersimpan rapi di puluhan album-album kesayangan ku. Akan indah kalo dilihat lagi….lucu…kuno dan narsis tentunya! hihihih

pose three...di tunggu papi...tetep aja gaya dulu...hahaha

pose three...di tunggu papi...tetep aja gaya dulu...hahaha

pose one..

pose one..saat body ku lagi ehem ehem..hihi

pose two...ma harimau mitasi..

pose two...ma harimau mitasi..

Lain dulu lain sekarang. Dulu aku suka foto dengan properti apa saja, nah sekarang aku udah mulai selektif, ngga hanya sekedar gaya, berfoto ria bagiku juga harus punya makna. Tentunya juga harus dengan orang-orang bermakna. Sering dibilang narsis, tapi kini aku sangat suka menyimpan koleksi foto saat bersama orang-orang penting. Entah itu aku suka apa ngga, yang penting selagi itu orang penting, ya aku mau foto ma dia….hahaha.

with pengusaha sukses RI

with pengusaha sukses RI

with calon RI-1

with calon RI-1

with artis yang gayanya paling aku benci...hahahaha...tp karena judulnya dipoto...yuuukkk mariiii....

with artis yang gayanya paling aku benci...hahahaha...tp karena judulnya dipoto...yuuukkk mariiii....


Tapi teteeeeeep…..dimana saja berdiri dan kapan saja. Saat lagi mood meski ngga ada orang penting tetap harus foto…1..2…3…yaaap!!!! Foto dah pokoknya poto!!!. “Gila lu don, narsis banget!, suka difoto ntar umur lo pendek! Gw belum siap dihantui ma orang banyak dosa kayak lo!,” Si Lina, teman curhat ku sering bikin sewot dengan nasihat gaibnya itu. …. Tp Dasar Hobi…Ngga peduli…biarin NARSIS..toh juga udh seringkali….Hidup Foto!!!!!!

Go Obama !!!!

•November 6, 2008 • 7 Comments

Pidati Kemengan Obama Tanpa Teks

Pidato Kemenangan Obama Tanpa Teks

“Bagi Pemirsa di seluruh dunia, takdir ini akan kita rasakan bersama!,”. Kalimat ini diucapkan Obama saat pidato kemenangannya, aku kutip dari siaran langsung MetroTV siang kemarin (5/11).

Situs, Televisi, Radio, Semua Menggemakan Kemenangan Obama

Situs, Televisi, Radio, Semua Menggemakan Kemenangan Obama

Benar saja, kemengan Obama mampu dirasakan banyak orang, meski berbeda negara, suku dan ras, termasuk aku!. Sebagai fans berat Obama, tak salah pula kiranya mengapa aku sangat fokus dengan kemenangan Obama. Mengikuti secara cermat detik-detik kemenangannya. Menunggu dengan sabar pidato kemengannya dari televisi nasional, tak beranjak dari situs-situs yang menayangkan tentang kemenangan Obama.

Tak bisa dijabarkan dengan banyak kata, bangga dan salut, hanya ini yang bisa aku lukiskan tentang sosok muda yang tampil apik, professional dan juga memiliki visi tak biasa ini. Go Obama…!!! Semoga di Indonesia, akan lahir sosok-sosok seperti Obama, dan juga suasana berdemokrasi seperti saat pemilihan Obama.

Obama dan sang istri Michelle sesaat sebelum Pidato Kemengannya kemarin (5/11)

Obama dan sang istri Michelle sesaat sebelum Pidato Kemengannya kemarin (5/11)

Tak bermaksud plagiat, foto-foto saat pidato kemengan Obama ini, kemarin siang, aku “curi” dari tayangan MetroTV untuk koleksi pribadi agar bisa pula dinikmati bersama. Tidak untuk diperjualbelikan…hehehe….

Mudik ke Dusun , Bahagia tapi Ada Kecewanya..

•November 2, 2008 • 14 Comments

Mudik sekali setahun benar-benar seru. Meski udah sebulan berlalu, rasanya masih aja pengen cerita tentang kampong ku, dusun ku dan juga tempat kelahiran ku itu…Aku ingin menceritakan dua versi perasaan yang aku rasakan selama di dusun saat Lebaran lalu.

Bahagia

Karena beberapa faktor:

  1. Berkumpul utuh satu keluarga, apalagi melihat kedua orang tua ku yang bahagianya tak kalah ketulungan. Gimana tidak, hari-hari mereka yang biasanya hanya dilalui berdua, mendadak 5 hari jadi rame. Ada aku ma suami, juga ada adik laki-laki ku yang datang dari kota tempat ia dinas, Bengkulu, lengkap sudah.
    Kata ayah..sejak kami pulang..ibuku jadi terlihat lebih muda 20 tahun...sekarang usia beliau 56 tahun..mm…good opinion jg..

    Kata ayah..sejak kami pulang..ibuku jadi terlihat lebih muda 20 tahun...sekarang usia beliau 56 tahun..mm…good opinion jg..

    nih..adikku...cakep khan..sama ma kk nya..huehuehue

    nih..adikku...cakep khan..sama ma kk nya..huehuehue

    liaaat...bahagianya orang tuaku saat anak-anaknya yang manis-manis ini pulang

    liaaat...bahagianya orang tuaku saat anak-anaknya yang manis-manis ini pulang

    “Aku merasa sangat kayaaaa….” Ah ibuku paling pintar meneriakkan kalimat mendebarkan….

  2. Bertemu sanak saudara. Kami memang bukan keluarga besar. Tapi dari saudara yang hanya seitrit itu..senang rasanya bisa ketemu satu sama lain. Apalagi ketemu lkembali ma tetangga. Di dusun, tetangga itu sama dengan saudara juga, sangat dekat!
    sanak keluarga datang....hanya di dusun aku bisa melihat mereka rame datang...

    sanak keluarga datang....hanya di dusun aku bisa melihat mereka rame ngumpul..

  3. Balas dendam selera. Ibu ku orang paling pintar masak, nah berhubung anaknya ini belum sehebat beliau. Jadi aku lampiaskan untuk bisa makan masakan enak buatannya.
    kalo kami semua pulang...ibu ku jadi orang paling bernapsu masak apapun

    kalo kami semua pulang...ibu ku jadi orang paling bernapsu masak apapun.."Lg repot nih.."

    Si Petani sedang memetik buncis..beli buuuuuk?

    Si Petani sedang memetik buncis..beli buuuuuk?

    segeerr...nih namanya terong rebus ma pucuk ubi alias daun ubi...semua ngga di beli...tp di tanam sendiri...

    segeerr...nih namanya terong rebus ma pucuk ubi alias daun ubi...semua ngga di beli...tp di tanam sendiri...

    makanan khas dusun yang luarrr biazzaa.. ex: gulai jengkol..hehehe, gulai jamur kukur, sop jamur telinga Bruk., rebus terong, buncis dan pucuk ubi, gulai ikan Semah, goreng ikan mujahir dan banyak lainnnya. Dijamin semua ngga bisa ditemui di Kota Jambi.

  4. Bulan madu lagi. Berhubung Kerinci adalah daerah dingin…yaaaa tau sendiri deeee…huehuehue.
    nah kalo ini...pra nimun...

    nah kalo ini...pra nimun...

    nah ini saat nimun-nimun tahap I..hehehe

    flashback: nah ini saat nimun-nimun tahap I..hehehe

     pose...sambil menikmati indahnya alam di dusun...sekalian honeymoon tahap II..hehe

    pose...sambil menikmati indahnya alam di dusun...sekalian honeymoon tahap II..hehe

  5. Reuni “mini” ma teman-teman SMP dan SMA dulu…wiiihh…gilee…udah pada berubah semua. Ada yang udh punya anak, ada yang baru hamil, ada yang dandanannya udah kayak tante-tante..ada yang tetap funkeeee…seperti akyuu….hehehe ..dan beragam lainnya. Tapi sangat seru….
  6. Dan banyak hal seru lainnya.

Kecewa:

Jalan hancur! Parah! Sejak zaman dahulu kala, zaman baheulak dulu, Jalan ke Kerinci sudah sangat hancur. (Dari Sumbar-Kerinci maupun dari Kota Jambi – Kerinci maupun di dalam daerah Kerinci itu sendiri!). Itupun tak berubah sampai tahun 2008 ini!. Kota Jambi – Kerinci yang hanya 500 Km. Harus kami tempuh dengan waktu tempuh 13 Jam!. Ngga tahu apa aja kerja pemerintah sana…dan apa aja kerja pemerintah provinsi ini…kayak ngga peduli aja..huh!!

lihat lobang jalan yang menganga...gmn ngga kecewa!

lihat lobang jalan yang menganga...gmn ngga kecewa!

Suamiku sampe 1 juta kali alih-alih persneling. “Beb, ntar anak kita, suruh jadi Mentri PU aja yah! Biar pas kita tua, 30 tahun lagi, sat mudik, nih jalan udah bagusan…kalo udah reyott…masih beginian…bisa tambah reyyot dong beb…” suamiku akhirnya menggerutu juga….nasiib nasiibbb.…

Pulang ke Dusun, Lepas Kangen, No Blog..

•September 29, 2008 • 12 Comments

Gembira rasanya…sore ini akhirnya bisa menggapai cita..pulang ke dusun…

Sebagai anak yang terlahir di pelosok desa, aku punya banyak kenangan Lebaran super indah sedari kecil…

 

Di dusun yang jarak tempuhnya 12 jam dari Kota Jambi itu..dulu aku pernah sangat rela jalan kaki berkilo-kilo hanya untuk nimbrung keramaian desa tetangga..agar bisa naik buaian “keling” (*buaian putar terbuat dari kayu tanpa mesin, harus diputar staf khusus).

 

Di dusun yang sepi dan berhutan lebat itu..dulu aku pernah gatal-gatal karena baju gaun baruku yang mengembang..penuh dengan tonjolan benang nilon, menusuk-nusuk dan buat gerah…

 

Di dusun yang pinggirannya penuh sawah itu…dulu aku pernah menghabiskan lebaran dengan kegiatan “menagguk” (* menangkap ikan dengan alat tangkap dari anyaman bambu) …jadi jangan heran..saat lebaran tiba…anak-anak bukannya tampil rapih tapi malah penuh lumpur parit sawah…

 

Di dusun yang dingin itu…lima hari libur ku tahun ini akan dihabiskan..berkumpul dengan ibu, bapak..satu-satunya adik laki-laki ku dan juga suami tercinta….

 

Tapi..di dusun itu…aku mungkin ngga bisa ngeblog…aku ngga begitu yakin Flash andalanku bisa berfungsi cepat dan lancar di sana..berhubung untuk mendapatkan sinyal GSM saja…semua HP harus kami gantung di pintu dengan keranjang khusus..Pasti akan kangen dengan sahabat Blogger semua….tapi aku janji saat kembali ke Kota Jambi…akan ku rangkum cerita tentang dusunku yang indah itu…Selamat Lebaran semua…Maaf Lahir Bathin….i’ll be missing u all..

 

Kali Pertama Melayani Suami…

•September 26, 2008 • 13 Comments

Sepanjang hidup, ramadhan bagiku terasa berbeda-beda.

 

Saat kecil…(SD)

Ramadan adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu dengan debar luar biasa. Aroma ramadhan bahkan bisa terdeteksi jauh-jauh hari. Jika mulai berpuasa,  ada banyak cerita, jadwal jadi padat sekali, mulai dari  tadarusan, tarawehan (meski lebih semangat minta tandatangan ustadz dari pada benar-benar sholat) dan lainnya. Cerita buruk dan tak kalah lucu, saat tak tahan haus, pernah pula aku diam-diam minum air kran, setelah jadwal buka datang, baru deh diserbu rasa bersalah luar biasa.

 

Saat Remaja….(SMP – SMA)

Tak banyak yang terekam…aku termasuk orang yang dewasa sebelum saatnya..Maksudnya, ketika banyak remaja seusia ku sibuk berdandan, menciptakan kepang rambut, membahas obat jerawat terbaik, berbisik-bisik membahas lawan jenis, JJS ke toko buku…aku malah lebih banyak menghadapi masalah berat. Memikirkan masalah yang seharusnya belum pantas aku pikirkan…Ramadhan yang terekam hanya pesantren kilat, lapar dan gitu-gitu lah…

 

Saat  Matang…(Kuliah)

Aku mulai mencetak banyak sejarah..punya banyak teman, bergaul dengan isi dunia..mandiri karena kos dan jauh dari kampung halaman.  Ramadhan  aku melahirkan banyak cerita bahkan juga sangat Top..Di kosan Top sebagai anak yang paling susah dibangunin ketika sahur. Di kampus Top karena selama ramadhan, kuliah pagi sering bolos. Di tempat kerja, Top karena pegang banyak peranan penting. Di mata ibu kos juga paling Top karena jarang tarwehan. Saat kuliah pula..aku merasa betapa berat godaan puasa karena punya cowok yang jahilnya minta ampun..hihihi..ah..pokoknya banyak cerita…

 

Saat Dewasa

Sebelum menikah

Baru hitungan hari pasca wisuda, aku langsung bekerja. Lagi-lagi jauh dari orang tua dan kembali jadi anak kos. Ramadhan, aku jadi jarang taraweh karena pekerjan, aku jadi sering buka di luar karena pekerjaan, aku sering sedih dan teramat senang juga karena pekerjan. Pekerjan dan Ramadhan begitu akrab bagiku…yang membedakan, pekerjaan membuat aku bahagia, ramadhan membuat aku lebih tenang dan lebih baik dari hari biasa.

 

Setelah menikah…

Tahun ini jadi tahun pertama ramadhan bersama suami karena emang baru tahun ini menikah. Menyiapkan buka dan sahur untuk suami, melayani suami dengan sesungguh hati,,(cieeee). Aku tak mengira ternyata ini adalah pekerjaan ringan..tidak seberat yang aku pikirkan dulu. Ringan, pertama karena suamiku bukan orang rewel soal makanan. Kedua, aku enjoy aja dengan status dan kerjaan baru ini. Ketiga aku emang jarang nyiapin buka dan sahur buat dia hehehe. Jarak yang memisahkan kami karena pekerjaannya dan pekerjaanku, menjadwalkan pertemuan cukup satu kali seminggu. Meski jarang ketemu…r  amadhan tahun ini tetap jadi sangat berbeda..lebih indah…seru dan benar-benar           mengasah keimanan….

 

 

Lelah tapi Suka…

•August 23, 2008 • 27 Comments

Setahun terakhir aku mulai merasa agak lelah…

Empat Pekerjaan sekaligus yang aku jalani …

Telah membuat aku …

(1) Diprotes suami.

(2) Jarang memperhatikan diri sendiri.

(3) Ngga pernah lagi tidur siang

(4) Bangun pagi badan selalu pegel

(5) Stop aerobic

(6) Jarang isi blog

(7) Jarang cek friendster

(8).. Boros BBM…hilir mudik ngurus semuanya..cappe

(9). Boros pulsa..untung ada yang bayarin tiap bulan. Thanks beb!

(10) Jarang nongkrong di warung favorit – Kantin DPRD bok!

(11) Gaya makin berantakan, udah berantakan, makin lagi!

(12) Sering ninggalin sholat

(13) Ngga kaya-kaya amat. Kata suami ku: kayaknya masih tetap kaya aku deh hone..huh!

(14) Jadi bahan omongan, ibu, bapak, adek tante, dan semua

(15) Ngga kenal tetangga. Bahkan ada yang kalo ketemu pasang wajah sirik..duh!

(16) Jarang masak.

(17) pokoknya…arrrggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!

Menghentikan salah satu atau fokus saja dengan salah satu,

rasanya sayang..karena semua sudah terlanjur berjalan lancar..

bahkan tak menganggu pekerjaan inti, pekerjaan anak inti, dan pekerjaan cucu intinya.

Tapi untuk diri sendiri?? Ampuuuunnnnnn!

Krisis Listrik…Membunuhku…

•August 15, 2008 • 15 Comments

Pemadaman bergilir listrik telah membunuh banyak aktivitas.

Ya masyarakat biasa ya pelaku bisnis…semua kena imbasnya..

Di Kota Jambi,

semua lingkungan dijatah dengan jadwal: tiga jam padam dan enam jam hidup…

Akibatnya..semua kegiatan terbunuh sementara..

Seperti malam kemarin…


jam segini biasanya aku udah ngorok...demi listrik...ku tahan sampe jam 12...uuuaaaaa...

jam segini biasanya aku udah ngorok...demi listrik...ku tahan sampe jam 12...uuuaaaaa...

(1) Aku harus menahan kantuk hingga tengah malam nunggu listrik menyala hanya untuk sebuah e-mail! ..email penting yang sembunyi di balik monitor mati!

(2) Aku harus rela digigit nyamuk, gara-gara obat nyamuk elektrikk ku ngga berfungsi.

Plook…plaaaak…!! … semua berantakan karena telapak tangan musti main silat-silatan ma nyamuk…

komputer mati, obat nyamuk mati,  lengkap sudah penderitaan..

my lover comput mati, obat nyamuk mati, lengkap sudah penderitaan..

(3) Semua sesi pekerjaan yang media pendukungnya harus dialiri listrik, berantakan dan jadi kacau balau!

stres..uhuk uhuk uhuks!

stres..uhuk uhuk uhuks!

(4) Pelanggan “usaha sampinganku” ngambek, gara-gara ponselku mati ngga bisa dihubungi, low bat…profitku jadi minus…

GPRS ngadat, semua ponsel mati, buntu! ngga ada solusi lagi!

GPRS ngadat, semua ponsel mati, buntu! ngga ada solusi lagi!